Comment

Air Dive Alor - Updates

Postingan terakhir saya tentang Alor baru hanya announcement website Air Dive Alor yang sudah live yah? Oke. So, apparently we already launch our Dive Centre in Alor in March 2017. I still remember the day when all of this still an idea. Can't believe this is really happening now.

We made a little ceremony with villagers, and share our happy moments with them. It was a very warm event! You can see the video here in our Facebook account.

Also in April, we had a chance to come to Singapore for ADEX 2017 joined with Indonesia Tourism Board. Imagine, as new kids on the block, we had a chance to come to ADEX as exhibitors. We were so lucky since its just a two weeks after our opening.

Comment

Airdivealor.com is LIVE!

Comment

Airdivealor.com is LIVE!

As promised, Air Dive Alor's website is now LIVE. You can now browse what it looks like if you want to dive in Alor, and check what we offer. If you have any diving inquiry, just drop us an email. 

Can't wait to see you in Alor!

Comment

Air Dive Alor – Exploring Days

Comment

Air Dive Alor – Exploring Days

air dive

As planned, finally comes the time when we have to speed up the process by moving to Alor. There will be Willy, Acionk and Bram, who will help us prepare everything for the next 3 months.  Previously Maul has helped back and forth setting up the legal documents for our dive centre operation during Acionk and Bram’s Divemaster’s Trainee in Nusa Lembongan, Bali. And also took a freelance job as Divemaster in Nusa Lembongan. Now they had finished their contract and ready to move back to Alor.

For the next couple of weeks, they will explore sites, mapping (hopefully) all covered dive sites before we officially launch next years. While on the land, we are currently built the boat, and ready to build the office.

I am happy to see what we’ve been through so far. To have a chance to visit Alor and helped the boys set up their new home for the next 6 months. Almost everything is on track, of course there was some adjustment here and there, but it’s normal. Part of the process. Lets hope that everything goes well for couple months ahead. 

Oh and thanks to Monic who also helped us on moving in to Alor, and Yvonne who will help us exploring dive sites in Alor. You guys are awesome! I’ll see you guys anytime soon. 

updates: our website is now live at www.airdivealor.com Yeay!

 

~ FN.

Comment

Lifehack: Cohousing di (pinggir) Jakarta

Comment

Lifehack: Cohousing di (pinggir) Jakarta

kavling H

Sejujurnya, saya lupa alasan beberapa tahun lalu tidak langsung ikut cohousing project ketika pertama kali diperkenalkan? Lupa apakah karena saya sedang tidak punya tabungan sebanyak itu? Ragu dengan konsep cohousing? Atau sudah keburu ambil rumah cluster di Sentul? Entahlah, saya lupa urutannya. Tapi saya akui, saya agak ragu bahwa konsep ini akan jalan dengan mudah. Konsep yang menarik, tapi kendala terberat saat itu menurut saya adalah, menemukan orang-orang yang sepaham dan mau membangun rumah 'bareng-bareng'. Apalagi ini terkait duit yang tidak sedikit, pasti bakalan lama sampai bisa terwujud. Pesimis, saat itu saya akui. Tapi saya salah, ternyata saya hanya kurang riset. Dan Mande, teman sekaligus project initiator, dengan gigihnya tetap memperjuangkan konsep ini terwujud agar bisa menjadi salah satu solusi masalah hunian di perkotaan. 

Konsep cohousing sebenarnya bukan konsep baru. Originally, cohousing pertama kali diperkenalkan di Denmark pada tahun 1964. Seorang arsitek Denmark, Jan Gudmand-Hoyer mengumpulkan teman-temannya dan memperkenalkan konsep ini. Meskipun kenyataannya, cohousing community pertamanya gagal dibangun. Tapi konsep cohousing tidak gagal sama sekali. Ternyata ada beberapa orang yang menuliskan dan mempublikasikan ide yang sama. Konsep ini pun mulai mendapat respon dari khalayak yang lebih banyak. 

Apapun yang berhasil 'jalan' di luar negeri, seharusnya bisa diimplementasikan juga di sini (Indonesia_red). Hanya saja butuh waktu yang agak lama untuk kita digest. Mungkin Mande berkeyakinan yang sama saat itu. Kegigihannya layak diapresiasi. Akhirnya cohousing project pertamanya berhasil menemukan calon-calon penghuninya. Lokasi pertamanya di Bintaro. Saya turut senang.

Jeda beberapa bulan, saya sibuk bolak-balik Jakarta-Sentul tiap weekend, untuk mengisi rumah yang sedang saya cicil 15 tahun. Saya cukup menikmatinya. Karena baik sebelum dan setelah menikah dengan Dhika di tahun 2015, kami tetap #timLDRan. Jadi belum ada urgency untuk tinggal serumah. Saya juga putuskan untuk masih tinggal di rumah orang tua di Jakarta. Karena dekat dengan kantor. Namun, semenjak Dhika akan kembali pindah kerja ke Jakarta di awal tahun 2016, sepertinya kami harus mencari tempat tinggal. Dan kami sadar, nggak rela saya dan Dhika bolak balik nyetir Sentul - Jakarta untuk bekerja tiap harinya. Kami mulai mencari alternatif lain.

Sebenarnya saat itu pilihannya adalah, membangun rumah di atas tanah orang tua. Tapi urusannya bakal sedikit ribet karena itu tanah keluarga dan surat-surat dari pemilik sebelumnya masih belum selesai diurus. Dan rencana membangun rumah inipun kita tangguhkan dulu.

Lama tidak mendengar kabar cohousing I, ternyata project tersebut tidak luput dari kendala. "Yah, lumayan banyak drama sih", curhat Mande saat itu. "Kontraktor pertama bermasalah, jadi harus cari kontraktor lain", ujar Mande ketika ditanya salah satu alasan waktu pengerjaan yang molor hampir satu tahun lamanya. Peminat pun jadi tinggal 6 dari 9 pemilik bangunan yang direncanakan. Nah, disinilah saya melihat pilihan untuk mengambil slot kosong tersebut. 

Setelah ngobrol-ngobrol dengan Mande, mengenai slot kosong di cohousing Baiturrahim. Akhirnya kami putuskan untuk ambil salah satu slot tersebut. Sedikit khawatir dengan penghuni lain karena belum pernah bertemu dan tidak join dari awal, tapi Mande berhasil meyakinkan kami untuk tetap ikut. Toh, ada Mande yang kita kenal, dan ternyata peminat baru lainnya pun saya kenal, salah satunya Rahne Putri, teman dan ex colleague di kantor lama. Dan setelah bergabung, para penghuni awal ternyata sangat welcome.

So here we are, setelah berjalan selama hampir tiga bulan lebih. Pembangunan rumah sudah hampir masuk tahap akhir. Berharap segala urusan dimudahkan agar bisa memiliki hunian yang nyaman di (pinggiran) Jakarta.

dfhousing baiturrahim

Comment

JR Pass dan Tripvisto.com

3 Comments

JR Pass dan Tripvisto.com

JR Pass yang dibeli di Tripvisto.com dan tiket atraksi yang saya harap bisa dibeli di website yang sama

JR Pass yang dibeli di Tripvisto.com dan tiket atraksi yang saya harap bisa dibeli di website yang sama

Tampaknya animo orang-orang indonesia untuk ke Jepang belum akan berakhir tahun ini. Status bebas visa (dengan e-passport) membuat Jepang menjadi destinasi yang diburu banyak orang. Setidaknya sampai saya pulang dari jepang Maret kemarin, saya masih melihat banyak teman yang berkunjung ke sana. Khususnya saat Spring, dimana Sakura mulai mekar. Sampai saat ini.

Indikator lainnya apa? Inquiry untuk Japan Rail Pass naik secara signifikan. Juga beberapa atraksi wisata di Jepang, seperti Tokyo Disneyland dan Universal Studios Jepang. Kok bisa tahu? Iya, saya dapat data trend ini dari tempat saya bekerja saat ini, Tripvisto. Anggap saja ini disclaimer.  

Anyway, sudah tahu Tripvisto belum? Kalau belum, you will know in no time! *asik bridging

Jadi apa sih Tripvisto? Tripvisto adalah layanan online travel marketplace, yang khusus menyediakan paket tur wisata, tiket atraksi wisata, dan country pass seperti JR Pass yang sudah disebutkan di atas. Di website tersedia berbagai pilhan paket wisata, mulai domestik maupun internasional. Kalau Traveloka menyediakan layanan booking tiket pesawat dan hotel, di Tripvisto khusus paket tur wisata dan atraksi saja. 

Kenapa website seperti Tripvisto ini harus ada? Dan kenapa saya mau ambil peran di Tripvisto? Simply because I found this platform useful. Saya membeli tiket JR Pass di website ini beberapa bulan lalu. Saya tahu website ini dari teman yang sudah lebih dulu bekerja di sini. Dia posting di salah satu social media platform soal promo JR Pass di Tripvisto. Berbekal informasi dari dia dan modal percaya saja, saya mencoba membeli JR Pass dari Tripvisto. Harga 7 days pass saat itu cuma Rp. 2,900,000. Di tempat lain saat itu tidak ada yang semurah itu. Belakangan saya tahu kenapa. Harga saat ini di Tripvisto, Rp 3,456,000, tetap masih lebih murah dibanding yang ditawarkan di tempat lain. Prosesnya juga mudah, tinggal pesan dengan melampirkan info data passport, dalam maksimal 3 hari, JR Pass sudah sampai di tangan. 

Harapan saya, platform ini bisa diterima oleh masyarakat luas, dan memudahkan kalian yang ingin liburan dan jalan-jalan. Seperti saya yang akhirnya bisa lebih mudah mendapatkan JR Pass untuk traveling di Jepang.

3 Comments

Comment

Do's & Don'ts Diving Nusa Penida

Beberapa hari lalu iseng browsing facebook timeline dan menemukan video tentang Code of Conducts Diving di Nusa Penida yang dishare oleh Chloe, Dive Instructor Lembongan Dive Centre. Video ini tentang do's and don't's selama diving di Nusa Penida. Well, sebenarnya bukan hanya di Nusa Penida saja, tapi juga di perairan manapun kita seharusnya mengikuti aturan ini. Mungkin Nusa Penida sudah semakin ramai dengan divers dan mereka merasa perlu untuk membuat Code of Conduct ini. Dan sebagai orang yang lumayan sering mengunjungi Nusa Penida untuk diving, saya merasa harus melihat dan juga share video ini jika sudah mengerti.

Thanks for a friendly reminder and hopefully we can be a better diver. 

 

Comment

Malam di Alor

Comment

Malam di Alor

Terbangun jam segini habis tiduran di depan kamar (lagi). Langit Alor bikin senyum-senyum sendiri nggak jelas kaya orang lagi jatuh cinta. Biasalah, tipikal anak jakarta lihat bintang-bintang.

Star gazing lagi. Milky way setiap hari keliatan di sini dengan mata telanjang. Sudah dua hari. kok bisa gitu ya? how awesome. Mau foto lagi, tapi yang punya kamera udah masuk kamar. Balik lagi bengong, sambil sesekali mendengar teriakan orang di pulau seberang. Tempat saya menginap memang cuma 15 menit dari pulau Alor kecil, pakai perahu sampan. Mirip-mirip jarak P. Weh dan pulau di seberangnya.

image.jpg

Hari ini terlalu manis. Pagi-pagi disambut iring-iringan dolphin di sisi-depan kapal sambil cari perhatian. Ada paus juga muncul belakangan, sayang agak jauh. Dan kali ini beneran. Bukan ekspresi excitednya Willy Irawan di sini ketika melihat kawan dolphins. Si paus santai aja berenang menyemburkan air dari atas permukaan tubuhnya, kaya di film-film. Kita amazed, sang kapten kapal santai saja cuma bilang, "yah besok paling ketemu lagii". Bukan bualan.

selamat malam, semoga harimu juga menyenangkan.

 

Milky Way dari Marangki Bungalow

Milky Way dari Marangki Bungalow

Comment

#ADWC: Barasuara

Comment

#ADWC: Barasuara

Mau unggah foto-foto di Path/Instagram, nanti flooding. Tapi disimpan sendiri juga nggak tahan mau dishare. Untung kepikiran ide untuk membuat post atau cerita dari foto-foto yang saya ambil hari itu. Dengan tag A Day With Camera (#ADWC). Kali ini dengan latar Barasuara. Dan ada sedikit cerita di sana. 

Ini pertama kalinya saya menonton band ini. Sejak mendengar kali pertama lagu-lagu di album Taifun, saya langsung tertarik dengan band ini. Apalagi mengetahui salah satu personelnya adalah Iga Massardi, yang saya tahu sejak The Trees and The Wild. Gerald Situmorang, gitaris yang pertama kali lihat penampilannya waktu mengiringi Eva Celia di Christmas concert-nya di Red Lounge beberapa tahun lalu. Those two are enough to make me curious about the band. Dan satu lagi yang bikin saya penasaran saat itu, band mana yang bisa membuat Gerald 'hanya' bermain bass guitar, kalau bukan band yang terdiri dari musisi-musisi yang kemampuannya mumpuni? Itu saja sudah premis yang menarik.

Iga Massardi

Iga Massardi

Si Lincah, Gerald Situmorang

Si Lincah, Gerald Situmorang

Gagal mendapatkan invitation sewaktu launching albumnya membuat saya masih penasaran untuk melihat live performance mereka. Album sudah sering saya dengar di Deezer. Tapi masih penasaran ya kalau belum lihat live-nya? Dan Senin, 22 Feb 2016 akhirnya saya bisa melihat langsung penampilan mereka. Anjis, kerennya kebangetan menurut saya. Masing-masing personel sama-sama punya skill yang menonjol. Harmonisasi suara yang dihasilkan dari lima anggota band saat itu bisa membuat hidup panggung dan crowd malam itu. Entah kapan terakhir saya menonton band dengan energi semenyenangkan ini. 

Jadi, apakah terlalu dini untuk menunggu album ke-2 mereka? 

image.jpg
image.jpg

Comment

Long Weekend

Comment

Long Weekend

Ada masanya di mana long weekend menjadi kesempatan untuk traveling atau diving ke tempat-tempat yang belum dikunjungi. Tapi tampaknya itu bukan long weekend kali ini. Liburan Imlek kali ini, cukup dihabiskan dengan menikmati Jakarta yang sepi, diselingi dengan sedikit mampir ke Bogor, mencoba mencari keriaan bersama Dhika dan teman-teman yang juga tidak punya rencana. 

Jadi ngapain? Sabtu kemarin saya berenang di kolam renang senayan dan ngobrol bareng #tetanggaTuku di SRSLY coffee, Cipete. Seru juga sih ngolam lagi, udah lama banget gak ngolam di Senayan. Kolamnya butek, tapi ya cukup menyenangkan bisa berenang lagi. Kebetulan Dhika juga harus therapy lututnya dengan berenang, ada Ipeh yang mau refresh diving dan Citra yang niatnya mau trial Diving. 

@ kolam renang senayan | difoto Dhika.

@ kolam renang senayan | difoto Dhika.

Minggunya saya ke Bogor sama Dhika untuk  #weekendvisit dan beberes rumah. Musim hujan tampaknya membuat rumput menjadi lebih cepat tumbuh, dan tembok jadi agak lembab. Potong rumput dan ngepel rumah memang jadi tujuan utama, tapi cuaca bogor yang lagi adem terkena guyuran hujan bisa membuat suasana jadi lebih rileks. Dan Senin, rencananya mau bertemu Idot dan Petty buat catch up biar pertemanan tidak semakin renggang. Tampaknya long weekend ini akan berjalan sesederhana itu. 

Hope you also had a great long weekend! and Gong Xi Fa Coi buat yang merayakan!  

 

image.jpg

Comment

Brotrip Featured in The Jakarta Post

Comment

Brotrip Featured in The Jakarta Post

Do you see text with link down there saying 'Traveling With Brotrip'? That is a project with my friends telling about our manifesto on traveling, collaboratively written in a website called brotrip.co.

 

Last week we got featured by The Jakarta Post Newspaper. That was one of unexpected journey we had, we never thought that this project will be acknowledged by media. As mentioned in the article, we started this as a documentary or a journal of our trip, along with our friends. We believe in every trip, there is a story left behind, and every individuals has their own story that they can express. That's why we create the platform. 

 

We are preparing another exciting project which hopefully can start by this year. And this little exposure from Jakarta Post means a lot to us. Definitely a booster to start a year.  

image.jpg

Comment

New Page for Macro Dive

1 Comment

New Page for Macro Dive

Diving terakhir di Padang Bai, terlalu awesome untuk dilupakan. Selain muck dive paling seru setelah Lembeh, disinilah saya pertama kali mulai diajari tips & trik buat foto macro. Jadi, untuk mendokumentasikan hasil foto-foto amatir dari saya ini, saya buat page baru di blog ini. Bisa lihat di page ini

Sebagai disclaimer, di dalamnya ada beberapa foto hasil jepretan Willy Irawan. Sudah dituliskan caption untuk setiap foto dari Willy, tapi sepertinya caption hanya muncul jika ditampilkan sebagai gallery inserted, dan hanya di desktop. Kalau ditempatkan sebagai gallery page, dia tidak muncul. 


1 Comment

Untuk Anakku

2 Comments

Untuk Anakku

Nak, ayah baru pulang dari Bali, setelah tiga hari menyelam di Nusa Penida dan Padang Bai. Lihat nak, foto ini? Indah bukan? 

Kalau sudah waktumu bisa mendengarkan dan mengerti keindahan ini, akan dengan senang hati aku bercerita. Walaupun tidak satu buku ceritaku, tapi ayah rasa cukup untuk memenuhi rasa penasaranmu. Di bawah sana sungguh indah luar biasa.

Jika sudah waktumu pergi, aku akan berikan restuku, mesti tak perlu kau meminta. Hanya selesaikan dulu pendidikanmu. Demi bekalmu di luar sana. Dan jangan lupa kau minta restu ibumu. Karena kebaikan ibumu-lah yang membuat Ayah bisa bercerita sebanyak ini.

Pergilah. Belajar dari kehidupan di luar sana. Dari alam, dari teman-temanmu, dan dari orang-orang yang kamu temui di perjalanan.

 

Salam terhangat dari Ayahmu.

FN. 31 Desember 2015.

2 Comments

Dive in Lembongan We Must

Comment

Dive in Lembongan We Must

Setiap tahunnya, semenjak saya Diving, nggak akan melewatkan trip yang satu ini. Mungkin sudah masuk masanya di mana saya sudah tidak terlalu berambisi untuk pergi ke belahan terjauh di bumi ini kecuali untuk diving di perairan Indonesia. Terutama ketika kamu tahu bahwa kamu akan diving dengan  @brotrip5 dan para idola di Lembongan. 

but first, don't missed a flight (anymore), please! 😂 

image.jpg

Comment

Belajar Dari Diving Crew Terbaik

Comment

Belajar Dari Diving Crew Terbaik

Rasanya seperti dikunjungi keluarga jauh, ketika Willy dan teman-teman crew Lembongan Dive Center berkunjung ke Jakarta. Ada Bli Moyo, Bli Mogli, Chloe dan Hillary. Saya, Dhika dan Maul menemui mereka di sini. Bercerita mengenai Willy yang baru saja lulus sebagai Dive Instructor, rencana diving selanjutnya, sampai cerita lucu bli Moyo dan bli Mogli yang baru pertama kali berkunjung ke Bandung. 

Lembongan memang selalu jadi tempat persinggahan saya dan teman teman jika ingin diving di Bali. Selain karena ada Willy yang sudah hampir beberapa tahun jadi Dive Master di sana, LDC juga memiliki crew yang seru dan ramah-ramah sekali. Bli Moyo adalah salah satu pemiliknya, Bli Mogli pemilik dan kapten kapal yg biasa kami gunakan untuk Diving, dan Chloe adalah experienced Dive Instructor di sana. Juga Pete, Instruktur saya sewaktu mengambil Advance Open Water di Lembongan Dive Center yang kini sudah balik ke UK.  Saya banyak belajar diving bersama mereka.  

left-right: Chloe, Willy, Hillary, Dhika, Maul, bli Mogli, Bli Moyo.  

left-right: Chloe, Willy, Hillary, Dhika, Maul, bli Mogli, Bli Moyo.  

Comment

Distraksi

Comment

Distraksi

Seringkali kita butuh, ketika rutinitas sudah mulai menggerogoti. Bosan, biasanya itu yang dihindari.

Tiap orang punya caranya masing-masing untuk membunuh bosan tinggal di kota besar, apalagi sebesar Jakarta, yang masih semrawut. Rutinitas kantor, jalanan kota yang tiap hari menyedot energi sampai titik terendah, sampai hari ini. Banyak orang berusaha kabur sejenak dari rutinitas tersebut. Kegiatan-kegiatan yang mereka percayai sebagai pelarian sementara. TGIF, weekend getaway, midweek madness, #wanderlust #liveauthentic #blablablatrip #dll yang kira kira sering kita lihat-dengar di social media.

Saya lebih suka mencari distraksi. Entah sebenarnya apa yang dicari. Yang pasti bukan sensasi, karena jika iya, duh, kenapa sampai sekarang masih di sini?

Distraksi-distraksi ini awalnya sepele. Mulai dari lari sehabis jam kantor di GBK, sepedahan di hari minggu, ngopi dan ketemu teman sepulang jam kantor, dan lain lain. Kegiatan tersebut makin lama tanpa disengaja jadi punya arti. Kerjaan sehari hari yang tadinya hampir bosan tapi anehnya makin seru, mungkin karena jogging, saya jadi bisa melampiaskan stress kerjaan. Atau mungkin karena teman-teman yang tiap kali ketemu memliki ceritanya sendiri-sendiri dan kerap kali menjadi inspirasi. kegiatan-kegiatan tersebut menjadi distraksi yang menyenangkan.

meeting friends at your fav coffee shop can help to release stress.  📷: acionk

meeting friends at your fav coffee shop can help to release stress.  📷: acionk

Comment

Rafting di Ubud

Comment

Rafting di Ubud

Saya baru tahu kalau di Ubud, Bali, kita bisa rafting. Tepatnya rafting di sungai Ayung. Rutenya lumayan menarik. Pemandangan tebing-tebing tinggi, sedikit waterfall, dan kadang bisa melihat kera hutan di sana. Jalurnya juga melewati beberapa hotel bintang 5. Yang saya ingat tapi hanya Ritz Carlton.

"ah, Bali mah gitu-gitu aja..", Beberapa kali saya mendengar orang berkata demikian, jika bercerita tentang pengalamannya ke Bali. Lebih kesal lagi, jika frekuensi ke Bali orang tersebut masih hitungan jari. Padahal, ya orang itu kurang explore aja.

 

Lain waktu kamu ke Bali, dan mampir ke Ubud. Rafting, mungkin bisa jadi salah satu alternatif kegiatan yang bisa dilakukan, biar nggak gampang ngecap Bali 'gitu-gitu aja '. 

end point view

end point view

Comment

Whaleshark Encounter

Comment

Whaleshark Encounter

I was invited by Mbak Andar, who particularly Dhika’s boss to joined this diving trip last week. Yes, exactly only a week before the trip. Actually, I already have a plan to dive at Harapan island with the bros and para idola, but since Mba Andar said, it’s whale sharks seasons this month, and you can only have a chance to see them once a year, you don’t have to go to Nabire (i still want to go there anyway), plus I will see my wife there, :p. I decided to go. And i also asked Petty to joined since there was one empty seat in a group and she really need to refresh her diving skill. 

We went on Saturday, October 3rd, 2015, early in the morning with Nemo Dive Makassar. There were 12 people with us, I joined the group who some of them already dive together for several times. But they're all nice, friendly and very welcome to the new comer like us. 

We boarded from Barombong harbour early in the morning. Need around 1.5 hours to get to the first spot, but we didn't find any signals of their presence. After checkin into three spots, we stop moving and decided stay at the third site. the signals was there, it's just the sharks not there yet. We wait patiently. Only 15 minutes after the boat shut down its engine, a big whale sharks suddenly came to the boat! Yeaaaas, finally we found it! That was a huge creature. The most beautiful gentle giant i’ve ever met. And we play around with them for almost an hour! what a dive!  

Comment

Selonjoran di Gunung Pancar (2)

Comment

Selonjoran di Gunung Pancar (2)

Kayanya sebentar lagi saya jadi duta gunung pancar. Sering banget ke sini! Tapi emang anaknya gampangan sih, kalau ada rombongan yang mau ke sana, dan saya diajak, pasti susah nolak. Mungkin kalau ada rombongan ibu-ibu PKK mau arisan di gunung pancar, bisa jadi ikutan juga.

Kita Piknik. Akhirnya setelah sekian lama berteman, tumben banget circle pertemanan yang satu ini mau effort ngumpul dan main bareng di luar kawinan, lahiran, dan buka puasa bersama. Walaupun cuma secuil dari jumlah orang yang ada di Line Grup, tapi yaudalah ya yang bisa aja. Lama kalau nunggu-nungguan, udah pada gede juga. 

Comment

Selonjoran di Gunung Pancar

Comment

Selonjoran di Gunung Pancar

Maunya sih selonjoran somewhere in New Zealand, tapi yah kali ini di Gunung Pancar aja dulu, hehe. Ini kesekian kalinya saya ke sini. Dulu juga pernah glamping di sini. Ya kaya gini, iseng aja. Kebetulan kali ini diajak sama Sarah yang ternyata mau ke sini sama anak-anak kantor. Padahal kayaknya dia cuma nanya arah, cuma gak enak kalau gak basa basi ngajak, jadinya diajak, alhamdulillah yah? :p.

Melihat situasi yang kondusif (tadinya ada acara lain, tapi batal), lalu saya ikutan ini aja ajak si Dhika, karena dia juga belum pernah ke sini. Terlalu semangat, malah jadinya datang sejam lebih awal. Yaudah kita pacaran dulu berdua di kebon pinus.

Dan beginilah suasana siang ke sore hari itu. Menikmati hari libur yang tinggal sehari lagi sebelum kembali ke ruang kantor. Dan sesungguhnya, grup jalan jalan kali ini cukup random. Saya kira. Tapi jalan-jalan sore ini cukup manis, manja (grup) dan menyenangkan. Lain kali ajak ajak lagi ya yang random-random begini? 

 

Comment

Comment

Gojek: Mengakali Transportasi Publik Jakarta

Akhir-akhir ini Jakarta sedang berbenah. Pembangunan terlihat di mana-mana, yang paling terlihat jelas ada pada sarana transportasi publiknya. Pemerintah sedang mengusahakan moda transportasi publik yang lebih baik dengan membangun MRT, Jalan layang untuk Busway, atau jalan layang untuk kendaraan pribadi. Yang menarik, tidak hanya pemerintah yang bekerja, sejumlah pengusaha/technopreneur juga mulai tertarik untuk masuk ke ranah transportasi publik ini. Sebut saja ada Uber, Grab Taxi, Gojek dan terakhir ini ada Grab Bike. Pada dasarnya tujuan-nya sama, mereka berlomba-lomba menawarkan alternatif moda/sistem penggunaan transportasi di jakarta.

Saya tertarik berbicara soal Gojek. Saya mulai mengenal dan menggunakan gojek sejak cara memesannya masih via telepon. Saat itu saya merasa jasa ini sangat berguna bagi saya, karena servicenya sampai level pembelian tiket pertandingan sepakbola timnas Indonesia yang waktu itu lagi rame-ramenya. Bayangin betapa jadi lebih mudah hidup saya, ketika sistem penukaran tiket secara langsung bisa diakali dengan meminta tolong tukang ojek? (Sistem bodoh mana yang masih mengharuskan mengambil tiket fisik setelah beli online?). Anyway, sejak saat itu, saya tahu saya akan sering memakai gojek. Lebih sering saya gunakan untuk jasa kurir, untuk antar barang, ngambil barang ketinggalan, beli tiket nonton bola, nonton film, dll.

Setelah cukup lama, akhirnya gojek mengeluarkan mobile apps. Nah, akhirnya ada progress? Saya pikir. Karena ya, saya merasa untuk service sebagus ini, rasanya sayang sekali kalau masih pakai sistem konvensional, harus telfon dulu ke call center dan bayar langsung ke tukang ojek? Sepertinya sistemnya bisa lebih baik dari ini, saya pikir. Dan Apps baru inpun menawarkan solusinya. Apps Gojek ini bisa digunakan untuk memesan ojek, sekaligus menjadi tempat transaksi online untuk kedua belah pihak, pelanggan dan tukang ojek. Akhirnya saya langsung coba apps-nya dan meski di awal appsnya masih banyak bug, tapi tetap saya pakai karena percaya dengan service ini.

Gojek Apps muncul berbarengan dengan promo free credit. Sebuah promo bonus free credit with referall code. Triggering orang untuk install apps dengan iming iming free credit Rp. 50,000. Dengan program referal codenya, mereka menawarkan bonus free credit Rp 50,000 untuk masing-masing pihak dari tiap kode yang diinput di apps (saat itu masih mekanisme lama), saya sebagai pelanggan dengan senang hati menyebarkan dan merekomendasikan penggunaan gojek melalui apps. Dan membujuk teman memakai referall code gojek (anyway, kode gojek saya 110930 yah) Nah di sinilah momen di mana Gojek akhirnya mampu mencuri perhatian orang-orang dan mendorong untuk mencoba servicenya. 

Tapi dari semua itu, yang membuat saya menyukai service gojek ini adalah, bagaimana tim gojek mampu memanfaatkan teknologi dan mengembangkannya untuk memudahkan hidup orang banyak. Tidak hanya kita sebagai pelanggan, tetapi juga para tukang ojek. Ya mereka memang merangkul para tukang ojek yang sudah ada, yang selama ini jalan dengan sistem lama, menunggu di pangkalan ojek. Mereka berhasil meyakinkan para tukang ojek ini untuk menggunakan sistem mereka dan diakui oleh banyak tukang ojek yang saya temui, sejak bergabung dengan gojek, penghasilan mereka jauh lebih baik dan lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga. Sistem bagi hasil antara manajemen gojek di tiap transaksi juga tidak terlalu membebani para tukang ojek dan dirasa masih wajar. Courier service dan beli antar makanan/barang juga menjadi faktor pendukung di mana jasa mereka makin diperlukan di tengah jadwal padat kaum menengah jakarta dan tingkat kemacetan jakarta yang semakin gila. 

Selain kisah sukses, cerita gojek juga semakin meluas dan melebar sampai ke ranah kecemburuan sosial di kalangan tukang ojek. Mereka yang belum atau tidak tertarik dengan sistem yang ditawarkan gojek mulai mengusik para tukang ojek yang memakai jaket warna hijau ciri khas mereka. Beberapa tukang gojek mulai diintimidasi dan dilarang melewati beberapa area yang terdapat pangkalan gojek di dekatnya. Gojek dianggap mengambil lahan kerja mereka. Saya sejujurnya kurang tertarik dengan isu ini, karena saya tahu, masalah ini akan terpecahkan jika saja, tukang-tukang ojek ini bisa berpikir lebih terbuka dan mau menerima perubahan. Ya, mereka harus mengakui kalau sistem baru ini lebih baik dan sudah terbukti bisa membantu meningkatkan hasil mata pencahariaan mereka. Sayangnya belum semua tukang ojek berpikiran seperti itu. 

foto: @willyirawan mencoba Gojek di Bali.

gojek.jpg


Comment