Pagi buta ini, tepat pukul 3.58 Wib di penunjuk waktu saya, tepat tujuh menit lagi sebelum azan subuh (seperti yang disampaikan suara dari masjid yang terdengar dari kamar saya), saya terdiam tak mengerti kenapa mata ini tak mau menutup, berharap dapat tertidur lelap seperti sebagian manusia lainnya. Isi dalam kepala ini dipaksa terus menerus berputar menerawang entah kemana. Kadang mundur ke belakang melihat kembali apa yang telah saya lakukan, sebentar menerawang jauh ke depan dan menerka-menerka apa yang akan terjadi di masa depan, namun tiba-tiba dalam hitungan beberapa detik kemudian pikiran itu kembali dimana tubuh ini tergeletak diam.Entah kenapa hal ini terus terjadi tiap kali saya mendapatkan waktu ‘mati’ (saya menyebutnya seperti itu, waktu seperti berhenti hanya untuk lompatan-lompatan pikiran atau ide-ide yang menerawang tersebut) tersebut, dan tiap lompatan-lompatan pikiran/ide itupun tidak ada yang pernah selesai, selalu terputus dan terhempas pergi begitu saja. Contohnya saja pagi ini, mungkin sekitar satu jam lebih saya mencoba untuk tertidur, namun rasa kantuk itu tak kunjung datang, dan saat itu juga otak saya kerap kali bekerja tanpa arah. Sesaat saya memikirkan betapa cepatnya waktu saya menjalani masa-masa kuliah (walau sebenarnya saya menghabiskan waktu empat tahun di sana), kenangan-kenangan bersama kawan-kawan satu kampus, satu permainan, yang sungguh sangat tidak mungkin saya lupakan (selama otak ini masih normal). Tapi tak berapa lama kemudian, jantung ini terasa begitu berdetak cepat kala sang otak mengarahkan pikiran saya jauh ke depan dimana pikiran-pikiran akan kesuksesan masa depan merongrong rasa dalam diri saya, begitu misterius, sungguh. Sungguh, bukan perubahan yang saya takutkan. Perubahan bagi saya pasti terjadi. Hal yang selalu membuat saya terus hidup adalah pertanyaan-pertanyaan dalam diri, tentang bagaimana saya menentukan arah perubahan di masa yang akan datang. Apa yang harus saya lakukan sekarang? Hal nyata apa yang dapat saya lakukan sekarang agar masa depan itu tercipta seperti yang kita pikirkan sekarang? Karena saya percaya,  sungguh saya percaya, bahwa masa depan kita adalah kita sendiri yang menentukan.

Comment