Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah tulisan yang dimuat di sebuah media kampus saya, judulnya "Sambel Tanpa Cabe" ditulis oleh Hikmat Gumelar di majalah mini bernama POT. Tulisan itu tampaknya (menurut cerna saya) memuat kegelisahan penulis mengenai kekhawatirannya akan budaya bangsa yang semakin tergerus, khususnya masalah-masalah yang kasat mata seperti budaya 'nyambal' ini. Budaya 'nyambal' mungkin hanya sebagian kecil dari sekian banyak masalah kebangsaan yang dialami bangsa Indonesia. Orang-orang lebih tertarik untuk membahas masalah-masalah kebangsaan yang dianggap mampu menghancurkan bangsa kita ini, macam disintegrasi bangsa, konflik antar suku, westernisasi, dll. Ya, saya bukan tidak sependapat bahwa hal-hal tersebut bisa menghancurkan bangsa ini, tapi bolehlah kita melihat dulu dari hal-hal yang kecil. Contohnya yaa seperti budaya 'nyambal' ini. Jujur aja, saya kurang begitu suka hidangan yang pedasnya minta ampun, tapi saya setuju kalau tanpa sambal maka rasanya hidangan makanan itu terasa ada yang kurang. Mungkin hampir sebagian besar orang indonesia setuju dengan saya. Hampir tiap daerah juga punya jenis sambal/hidangan pedasnya masing-masing. ada pedas khasnya masakan padang, Sambal terasinya, Sambel ulek, Ayam taliwang, sampai sambal rujak, dll. Sekarang ini, hampir kita temui banyak sekali sambal-sambal olahan telah menggantikan sambal-sambal tradisional di negeri kita. Lebih simpel, instan dan tidak perlu repot-repot untuk membuat sambal pabila tujuannya sebagai penyedap makanan dan untuk menghadirkan efek pedas pada makanan. banyak sekali produk sambal kemasan, lebih dikenal dengan saos sambal, yang beredar di pasar, menggantikan sambal tradisional.Disini saya ngga akan mengkaitkannya dengan isu kapitalisme atau nasionalisme bangsa Indonesia mengenai hal ini. Saya cuma mencoba mengingat-ingat pergeseran-pergeseran budaya yang telah sedang terjadi di negeri ini. Sambal ulek, yang telah dikenal di luar negeri (bahkan sampai ada resep membuat sambal ulek dengan salinan bahasa inggris di web-web masak) malah tidak populer lagi di negeri sendiri. sayang kan? Ayo, kawan..kita kampanyekan kembali budaya menyambal di negeri ini, paling tidak di rumah sendiri deh. Gmn?

*hmm jadi kepingin makan tempe goreng dengan sambal terasi buatan mama saya, hehe...

Comment