Oddi: "Han, sini kau, dipanggil kau sama Bapak, suruh foto-foto nanti di dalam!"Saya: "Ah, serius kau mas, males ah. Mending di sini aja,ini kan pintu masuk utama mas?" Oddi: "yee..udah sana ah, rasakan kau, dia mau dapat foto bareng presiden, tahun lalu (2004) dapet soalnya dia," Saya: "..."

Oddi adalah teman kantor saya, seorang jurnalis di Media Center KPU. Pria Melayu, asal Sumatera Utara. Sehari-hari tidak banyak bicara, sangat konsisten di depan laptopnya. Tapi baru kali ini lihat orang Batak kalem, cenderung pendiam. Tapi seperti apapun perawakan orang di kantor ini, mau pendiam, rewel, galak, tetap saja sama seperti hampir semua pegawai di kantor ini, harus sigap kalau dapat kerjaan-kerjaan mendadak dari si Bapak. Meski tak lupa diikuti dengan gerutuan setelahnya. Yah sudah biasa, namanya juga kerjaan.

Akhirnya saya menuruti ucapan Oddi, saya sambangi si Bapak, begitu anak-anak kantor menyebutnya. Namanya Heri Rakhmadi, dia adalah empunya Bamboedoea Communication, konsultan komunikasi yang dipercaya UNDP untuk mengelola Media Center KPU sejak tiga pemilu terakhir, 1999, 2004, dan 2009. Kali ini dia juga turut ambil bagian penting dalam deklarasi kampanye damai ini.

Dasar saya bodoh, panggilan Bapak seharusnya saya syukuri dari tadi, ruang yang dimaksud Oddi itu ternyata ruang tunggu capres dan cawapres sebelum masuk ke ruang utama tempat berlangsungnya acara. Ruangan VVIP, steril. Hanya capres-cawapres, perwakilan tim sukses, anggota KPU, dan fotografer istana yang bisa masuk. Tidak sembarang orang bisa masuk. Sebelum masuk pun saya harus dikawal fotografer istana. Saya pun diperkenalkan dulu dengan Mas Anung, salah satu fotografer istana.

18.45 Wib Rombongan capres cawapres no.2 datang pertama, SBY-Boediono.   Karena begitu banyak orang menunggu di pintu utama, protokoler istana mengalihkan rombongan masuk lewat pintu samping. Protokoler sangat ketat. Dan masuklah beliau ke ruang VVIP. Saya ketinggalan, saya coba bilang ke paspamres kalau saya sudah diizinkan untuk masuk, tapi mereka bergeming, untung Mas Anung muncul dari balik pintu dan mempersilahkan saya masuk. Saya pun masuklah.

Di dalam Pak SBY dan Pak Boed terlihat bercakap-cakap santai dengan ketua KPU. Sekitar 10 menit mereka bercengkrama. Kemudian tak berapa lama, pasangan Megawati-Prabowo datang. Pak SBY, yang sebelumnya hendak ke toilet segera membatalkannya. Pintu terbuka, sekali lagi saya mendapatkan kesempatan langsung untuk melihat mereka bertemu lagi secara langsung. Duduk bareng pula, di satu ruangan dengan rentang waktu sekitar 10-15 menit dan juga dengan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Sehingga mau tidak mau, dipastikan akan ada dialog diantara mereka. Entah apakah percakapan yang terlontar nanti, saya menduga-duga penasaran.

Pintu terbuka, disambut kilatan cahaya kamera, Bu Mega dan Pak Prabowo masuk, ketua KPU beserta jajaran anggotanya pun menyambutnya.

SBY menyambutnya dengan ramah. Melihat mantan komandannya, Prabowo langsung melayangkan hormatnya kepada mantan atasannya itu. SBY membalasnya dengan hormat. Megawati dan SBY berjabat tangan, senyum keluar dari keduanya. Tak berapa lama kedua pasangan kembali duduk bersebelahan. Saya mendengar SBY dengan ramah menyapa, "Apa kabar Bu?" tanyanya. Saya terlalu sibuk dengan kamera, Bu Mega hanya mengangguk dengan senyum kecilnya dan menjawab, "Baik". Suasana terasa dingin. Prabowo memecahkan kebekuan dengan membuka percakapan dengan Pak SBY, menunjukan keprihatinannya mengenai kecelakaan pesawat kopassus kepada presiden SBY. Mungkin topik ini memang pas, mengingat keduanya pernah sama-sama di militer. Sementara ibu Mega, lebih suka diam dan memperhatikan sekelilingnya. Sungguh menit demi menit terasa bergerak lambat waktu itu, haha. Aneh. Baru ketika pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto masuk ke ruangan, suasana terasa hangat. Jusuf Kalla menyapa kedua pesaingnya dengan hangat dan santai, tidak terlihat satu keraguan pun. Suasana menjadi hangat seketika. Meski Ibu Mega tetap irit bicara.

Acarapun segera dimulai, pasangan Megawti-Prabowo dipanggil keluar untuk memasuki ruang acara, sesuai nomor urut. Sambil menunggu giliran berikutnya, Jusuf Kalla dan SBY terlihat akrab bercengkrama. Obrolan mereka tak jauh dari urusan negara. SBY mengingatkan sesuatu kepada wakil presidennya, entah apa, saya tak menyimaknya. Kemudian secara bergiliran, kedua pasangan masuk ke ruang utama tempat deklarasi dilaksanakan. Dan dimulailah acara deklarasi kampanye damai pemilu presiden dan wakil presiden RI.

res

2 Comments