"Hamba bukanlah umat terbaik Mu,tapi keimanan hamba tidak sampai MEMBUNUH."

Sebuah karya yang jujur memang terasa beda. sebuah lirik dari lagu 'Kami Tidak Takut', karya Pandji Pragiwaksono ini mencerminkan sebuah ekspresi kemarahan, kepedulian yang ia rasakan, dan sikap yang ia tunjukkan ketika seseorang atau sekelompok orang berusaha menghancurkan kebahagiaan, kedamaian dan kehidupan yang aman untuk orang banyak. Lagu yang dibuat setelah kejadian teror aksi bom tahun 2000 awal ini kembali ramai di youtube dan facebook, ketika kemarin, Jumat (17/07/09), Jakarta kembali diguncang Bom. Sebuah aksi brutal teroris kembali mengganggu kehidupan negara ini. Dua buah bom meluluhlantakkan lobi hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Hotel. Membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Membunuh Negara ini.

Saya gelisah. Entah semua orang merasakannya atau tidak. tapi jelas, Saya termasuk orang yang gelisah dengan kejadian ini, karena, lagi-lagi citra Indonesia di mata dunia kembali terpuruk. Breaking News Metro TV di relay langsung kepada dunia lewat siaran CNN News. Indonesian Hotel Bombing, begitu CNN mengabarkan pada dunia. Twitter pun ramai. 'Jakarta', 'JW Marriot', dan 'Ritz Carlton' menjadi trendy topics saat itu juga.  Pagi itu juga, All eyes on Jakarta!

Mata dan pikiran saya langsung tertuju kepada industri pariwisata kita. Pariwisata Indonesia akan kembali terpuruk. Mudah-mudahan tidak terlalu buruk. Karena tiap kali teror terjadi dampaknya langsung ke masyarakat pelaku industri ini. Untung dan ruginya, mereka yang langsung merasakannya. Sungguh kasihan, mereka harus menanggung sendiri dampak buruknya.

Sektor pariwisata hanya salah satu sektor yang akan terkena dampaknya. Belum sektor yang lainnya. Dan, entah sampai kapan dampak teror ini akan berakhir. Tapi yang pasti, kami, sebagai bangsa yang besar akan melawan. Melawan dengan segala daya yang kami bisa. Apapun itu, seburuk apapun negara ini, kami tetap cinta negara ini. Kami akan tetap melawan, bangkit, mengejar kembali ketertinggalan. Percayalah, negeri ini indah, masyarakat kita ramah, tidak kurang satupun potensi negara ini untuk menghalangi negara ini menjadi negara yang dipandang di dunia. Suatu saat nanti. Pasti.

Indonesia, 18 Juli 2009. Mohammad Farhan Noor.

Comment