Pernah dengar seumuran anak SD ngomong seperti itu di lingkungan sekitarmu? Aneh kan, dari mana sih dia dapet konsep cupu? Bagaimana bisa dia mengkategorikan temannya sebagai anak yang cupu? Menurut saya dan beberapa teman saya, media punya peran di sini. Media mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam pembentukan kognisi seseorang. Media memberikan informasi dan pengetahuan yang pada akhirnya dapat membentuk persepsi. Dan penelitian menunjukan bahwa persepsi mempengaruhi sikap (attitude) dan perilaku seseorang.

Kognisi adalah semua proses yang terjadi di pikiran kita yaitu, melihat, mengamati, mengingat, mempersepsikan sesuatu, membayangkan sesuatu, berfikir, menduga, menilai, mempertimbangkan dan memperkirakan. Pada anak-anak, proses pembentukan kognisi ini justru akan semakin lebih cepat. Nah, bayangkan, ketika anak-anak menonton televisi, saat itu mereka menyerap banyak hal yang mereka lihat dan dengar. Sementara konten televisi kita masih banyak yang tidak informatif dan positif bagi perkembangan kognisi anak.

Kemampuan menyerap informasi pada masa kanak-kanak sangatlah besar, mungkin fase paling banyak menyerap informasi adalah pada masa kanak-kanak tersebut. Rasa ingin tahu yang besar membuat mereka banyak mencari tahu informasi apapun yang mereka dapatkan, bahkan bisa berlanjut pada tahap meniru perbuatan-perbuatan yang mereka lihat sehari-hari.

Jika anak-anak tidak diawasi dalam mengkonsumsi media, dia bisa dengan mudahnya menyerap realitas semu yang ada di dalam televisi. Misalkan realitas semu pada setting sinetron yang biasa ia tonton. Mereka akan beranggapan bahwa realitas yang ada di sinetron tersebut adalah nyata dan pola pikir mereka sudah terkonstruksi untuk hidup seperti yang ia biasa lihat di televisi.

Anak-anak akan mengalami pemaknaan pada diri mereka dan lingkungan sekitarnya, mulai mengenal mana anak yang tergolong kaya, keren, gaul dan mana yang cupu atau miskin.  Dan mulai bertingkah laku seperti konstruksi yang ada di kepala mereka.

 

 

2 Comments