Setiap hari di jam-jam tertentu, tukang ojek itu selalu menunggu seseorang di pangkalan ojek Kuningan. Setiap sore, ia tampak menunggu dengan cemas. Ia menunggu seorang perempuan.  Perempuan berparas cantik, pemilik senyum terindah yang pernah ia temui. Namanya Prita, seorang pekerja swasta yang sehari-harinya bekerja di kawasan Kuningan, Jakarta. Prita sudah menikah, tetapi belum dikaruniai anak. Sudah lima tahun ia hidup dengan pria yang dinikahinya. Setiap pagi di hari kerja, Ia pergi bekerja diantar suaminya, tetapi di sore hari, Ia selalu menggunakan jasa ojek untuk mengantarnya pulang ke rumah selepas jam kerja. Sosoknya lah yang selalu ditunggu pemuda itu.

Pemuda itu bernama Indra. Indra, sudah mengojek selama setahun lebih. Ia tidak seberuntung rekan-rekan seumurannya. Ia terpaksa mengojek sejak setahun lalu. Sebelumnya, Ia sempat mengecap pendidikan perguruan tinggi. Sayang, seperti kebanyakan keluarga berpenghasilan rendah, kuliahnya hanya sampai semester dua karena orang tuanya tidak lagi sanggup membiayai kuliahnya.

Selama ini Ia menjalani profesi tukang ojek setengah hati, karena memang bukan inilah kehendaknya. Tapi semenjak Ia bertemu dengan Prita, Ia tampak senang-senang saja. Dia sudah sebulan lebih setia menunggu Prita setiap sorenya di pangkalan ojek itu. Meskipun tidak setiap hari ia mendapatkan kesempatan untuk mengantarkan Prita, tapi ia tetap bahagia jika bisa melihat sosok Prita di setiap sorenya. Diam-diam, Indra mengagumi Prita.

Sosok Prita memang merupakan sosok yang mudah dikagumi lawan jenisnya. Ia cantik, memiliki tubuh tinggi semampai, dan senyumnya sungguh mempesona. Ia selalu menunggu kedatangan Prita setiap sorenya di pangkalan ojek depan kantor Prita. Pukul 17.00, Indra selalu tampak lebih awas. Biasanya, jam 17.15 Prita sudah keluar dari kantor.

Dia sangat menikmati waktu ketika Ia berhasil mengantarkan Prita pulang. Mereka jarang sekali mengobrol ketika Indra mengantarnya pulang. Paling hanya sedikit menanyakan harinya di kantor hari itu, dan biasanya dijawab dengan singkat, "alhamdulilah pekerjaan semuanya bisa selesai.." Indra selalu tersenyum diam-diam di balik helm-nya.

Tapi pernah suatu ketika, Indra merasa apa yang ia lakukan itu sia-sia. Kadang terpikir olehnya bahwa yang Ia lakukan sebenarnya adalah mengantarkan perempuan itu kembali ke pelukan suaminya. "Ini tidak adil. Saya yang mengantarnya ke rumah dengan selamat, tapi kenapa orang itu yang dia peluk!", gumamnya kesal suatu ketika. Namun Ia tidak pernah menyesal mengantar Prita pulang. Ia selalu menunggu momen itu. Kini, doanya tiap pagi ada dua, mendapatkan rezeki yang lebih banyak dari hari kemarin, dan bertemu dengan Prita.

Sore ini tampak mendung, Indra tampaknya akan segera pulang. Tidak akan ada yang menggunakan jasanya jika hujan. Waktu pun sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, sebentar lagi gelap.

"Indraaa! Tunggu!!", seketika Ia menoleh kaget mendengar suara dari seberang. Ia mengenal suara itu, Prita. Kaget karena ternyata Prita mengetahui namanya. Ia tersenyum.

Hujan sudah mulai turun dan mulai mengguyur jalan itu. Ia menunggu di seberang, sambil menyalakan motor dan menyiapkan helm untuk Prita.

"ZRAAAAAKKKK!" Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dibarengi suara decitan mobil. "Astagfirullah! Astagfirullah"  Tubuh Indra bergetar keras ketika di depannya tampak seseorang perempuan yang Ia kenal berguling bersimbah darah. Suasana tiba-tiba menjadi histeris oleh teriakan bersahutan meminta tolong dari kerumunan di sekitar, tapi tidak ada satu kata yang sanggup keluar dari mulut Indra. Ia hanya bisa memegang tubuh Prita yang tak bergerak.

Hari itu, menjadi hari pertama dan terakhir Indra mendengar namanya disebut oleh perempuan yang dikaguminya.

2 Comments