"Kenapa sih intensitas komunikasi kita gak bertambah bahkan cenderung berkurang justru ketika kita kaya gini?" Pertanyaan itu datang begitu aja di kepalaku. Sungguh, aku tak tau, I just being me. Tapi aku sadar hal itu, dan entah kenapa tetap gak ada dorongan lebih untuk selalu ingin memberi kabar atau mendengar kabar dari kamu. Yang ada di kepalaku, "ah, dia tahu aku lagi ngapain dan aku pun percaya sama kamu. nggak ada yang perlu dikhawatirkan". Selalu itu yang aku tanamkan di kepalaku. But i realized lately, it sounds so wrong. I have to admit it.

Kabar kamu mau pulang akhir pekan ini pun aku tanggapi dengan biasa aja. Baru sebulan juga kok kita gak ketemu, ya wajarlah kalo aku biasa aja…Itu yang ada di kepalaku ketika bertanya dengan diriku setelah beberapa saat aku tutup telepon kamu, dan aku rasa bukan itu yang ada di pikiran kamu melihat respon datar aku. Aku takut, takut kamu tahu hal ini.

Terlalu beresiko untuk membiarkan aku hidup bebas di sini tanpa ada yg membatasi. Rasa egois itu semakin tumbuh. Rindu itu hanya datang sesekali. Aku tak bereaksi. Aku semakin menghiraukan komitmen ini.

Dear Gurita Nanas, Itu isi hatiku, tolong dibaca dan dibalas yah kalo sudah mengerti..Oiya, cepat pulang juga nanti aku beri yang hitam hitam kesukaan kamu itu  *kecup centil*

Tertanda,

Cumi- Cumi Kuda.

Catatan: Baik Gurita Nanas dan Cumi-Cumi Kuda sudah tidak pernah bertemu dengan orang tua masing-masing. Kabarnya keduanya berpisah akibat hasil persilangan yang terlalu ekstrim. Mereka tidak saling mengenal lagi. Alhasil baik Gurita Nanas dan Cumi - Cumi Kuda menjadi labil dan kini saling memadu kasih.

3 Comments