Masih dari Dieng, sebuah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah yang berada di ketinggian di atas 2,000 m di atas permukaan laut, tempat dilaksanakannya acara #Float2Nature. Bagi yang sudah melihat postingan video sebelum ini, mungkin sudah tahu apa itu #Float2Nature. Float2Nature dibuat untuk mempertemukan musik dengan alam. "Ide awal tercetusnya memang ingin membawa musik Float ke tengah-tengah suasana alam yang indah  di negeri kita dan melakukan sesuatu untuk melestarikan keindahan alam kita. Dieng terpilih sebagai lokasi pertama kita. Bekerjasama dengan @lembahpelangi dan @picnicholic akhirnya ide ini terwujud", ujar vokalis Float @hotmaroni, di sela live performance mereka.

Konsep yang memang menjadi daya tarik utama gue kali ini. Live performance sebuah band di tengah-tengah ketinggian 2,000 m. Waktu itu ngebayanginnya kaya Sigur Ros konser di tengah gunung-gunung iceland ha ha. Ternyata ada juga nih band yang berani bikin ginian. Dan hadirlah gue di sini, di tengah-tengah udara dingin Dieng dan pemandangan alam yang menakjubkan. Bersama salah satu band yang memang sudah gue kenal sejak lagu Stupido Ritmo keluar, dan rombongan teman-teman seperjalanan yang entah mengejar band ini, mengejar keindahan Dieng, atau kolaborasi keduanya.  Dan untuk konsernya sendiri, gue bisa bilang ini salah satu konser paling keren yang pernah gue datengin dan mungkin nggak akan gampang dilupain.

Embun pagi Dieng dan udara dingin yang menusuk. Pagi itu senyum lebar merekah di rawut wajah para peserta Float2Nature. Kami semua terhanyut dengan alunan musik Float di tengah gunung yang dingin tadi malam. Rasanya, lelah perjalananan selama 22 jam dari Jakarta ke Dieng terbayar malam itu.

Pagi itu, selesai sarapan dan bercengkrama dengan teman-teman di sana, gue kembali ke tenda untuk merapihkan backpack dan bergegas pulang bersama rombongan lain yang memutuskan pulang lebih awal. Dari tempat kemah, rombongan berjalan kaki sekitar 15 menit ke lokasi bus parkir. Di tengah-tengah berjalan kaki inilah gue merasakan keramahan warga lokal di desa ini. Beberapa penduduk desa yang sedang mengurusi ladang kentang mereka, dengan senyum ramah, mereka kerap menyapa dan melempar senyum. Berjalan melewati desa mereka, disapa dengan ramah oleh para penduduknya.

"Mau pulang mas?", seorang ibu yang sedang duduk-duduk di depan rumah menyapa gue.  "Iya bu, marii", Jawab gue kemudian. Sebelumnya juga ada satu motor berisi tiga remaja yang menyapa gue dan @alderina yang sedang berjalan, yang kemudian gue jawab dengan melempar senyum, karena nggak mendengar apa yang mereka ucapkan. Ternyata setelah saya tanya @alderina, mereka menanyakan 'pamit mas?' bermaksud menanyakan kita yang ingin pulang dari Dieng.

Dua kali mendapatkan sapaan hangat dari warga sekitar ketika melihat gue dan @alderina melewati mereka dengan memanggul tas di bahu, hendak menuju bus untuk pulang ke Jakarta, cukup untuk mengingatkan gue saat itu untuk lebih inisiatif menyapa lebih dulu ketika berpapasan dengan warga lainnya. Sikap yang jarang kita dapatkan ketika bertemu orang yang tidak kita kenal ketika berada di Jakarta. Ah, akibat terlalu lama hidup di Jakarta, sampai lupa menyapa orang ketika berpapasan.

Di sinilah gue diingatkan kembali dengan konsep awal Float2Nature. Mengembalikan kita kepada esensi nilai-nilai kehidupan yang telah lama luntur untuk warga kota. Berteman kembali dengan alam dan manusia-manusia di dalamnya.  Menikmati harmonisasinya.

1 Comment