Seorang ibu paruh baya baru saja masuk ke dalam bus transjakarta yang saya naiki. Dengan raut muka lelah tampak masih ia coba melangkah, susah payah menyeberangi batas tepi shelter bus ini.  Sampai di dalam bus, Ia masih harus berjibaku dengan penumpang lain berebut tempat nyaman, sampai Ia tiba di tujuan. Diam-diam, dada ini sesak menahan nafas melihat adegan itu.

Kota ini memang keras. Saya merasa hukum alam siapa yang kuat dia yang bertahan itu memang masih terus ada entah sampai kapan. Hanya saja, ada hal-hal yang seharusnya bisa diusahakan menjadi lebih baik. Yang bisa membantu orang-orang seperti ibu itu untuk menjalani hari-harinya dengan lebih layak. Salah satunya dengan menghadirkan sistem transportasi publik yang baik di kota ini, agar bisa berangkat dan pulang bekerja dengan aman dan nyaman.

Transportasi publik yang baik adalah impian saya yang paling sederhana dari kota ini. Sudah hampir jenuh saya dengar keluhan orang tentang macetnya Jakarta. Agak bingung sih,mau mulai dari mana untuk membantu mewujudkannya. Selama ini cuma bisa bantu dengan mengurangi volume berkendara dengan mobil pribadi di hari kerja.

Tapi, percumalah kalau kontribusi kita tidak dibarengi dengan kebijakan manajemennya maupun dukungan pemerintahnya. Jangan sedih! Sebentar lagi pemilihan gubernur Jakarta. Yang saya tahu, gubernur memiliki otoritas untuk mengarahkan kebijakan  sistem transportasi kota ini mau seperti apa. Peran yang cukup vital.

Dan setelah 11 Juli ini Jakarta mungkin akan punya pemimpin baru dengan kebijakan baru, atau mungkin juga tidak. Tergantung kalian aja nanti pilih siapa? hehe.

Saya bukan penggemar topik politik. Tidak pernah tahan lebih dari setengah jam dekat-dekat dengan orang yang membicarakan politik, meski kadang geram juga ingin berbuat sesuatu. Geram karena, percuma kita ngomong diskusi sampai berbusa selama orang yang mengisi bangku-bangku di pemerintahan itu isinya orang-orang bebal dari kritik dan saran. Sudah sangat sabar saya tinggal di negeri ini, di kota ini dengan segala dinamika politik elitnya yang bikin kepala mendidih hanya untuk memikirkannya.

Tapi ini ada satu kesempatan di mana kita bisa sedikit merubahnya. Dengan ikut memilih gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta untuk periode 5 tahun ke depan. Sayang jika kita lewatkan.

Mau Pilih Siapa? Saya, sebagai swing voters, yakinlah saya akan cari calon yang benar-benar punya kedekatan ide atau pandangan dengan saya mengenai Jakarta. Nah, sekarang tergantung kandidatnya, adakah yang sesuai dengan kriteria yang seperti saya inginkan? Kalau nggak ada ya saya gak milih. Segampang itu, nggak usah maksa harus milih.

Dan sejak saya tahu akan ada calon independen yang akan maju sebagai kandidat, dan itu adalah Faisal Basri, dalam hati, "Ini menarik!"

Saya memang kurang mengenal sosok beliau. Yang saya tahu waktu itu, dia adalah seorang pengamat ekonomi dan juga akademisi, tercatat sebagai dosen di UI. Saya sering melihat wajahnya menghiasi televisi ketika dia diminta memberikan pandangannya terhadap beberapa kebijakan ekonomi negara. Ya hanya sampai situ saya mengenalnya.

Tapi semenjak beliau resmi mencalonkan diri, saya jadi tergerak untuk mencari tahu lebih jauh. Premisnya ya itu tadi, karena dia berani maju sebagai individu, bukan calon dari Partai. Ini kan menarik!

Diam-diam saya memperhatikan gerak-gerik Faisal Basri.  Awalnya cukup sangsi juga, membaca berita tentang perkembangan dan proses yang harus beliau lewati untuk menjadi calon gubernur independen, tanpa dukungan partai politik. Masih ingat ketika beliau dengan susah payah mengumpulkan KTP sebagai syarat dukungan warga langsung pencalonan dirinya sebagai cagub DKI bersama Biem Benyamin. Dengan susah payah pasangan ini lolos dari proses verifikasi pencalonan. Bahkan sempat saya dengar kabar burung bahwa dukungan KTP para pasangan non partai ini didapatkan berasal dari data leasing, kredit, dll.  Entah ini benar atau tidak.

Yang jelas, setelah beberapa kali mengikuti dan mencari tahu lebih jauh, Faisal Basri punya visi yang jelas mengenai sistem transportasi publik di Jakarta. Dia dengan jelas menolak pembangunan jalan layang bukan tol di Jakarta, dan lebih menekankan untuk memaksimalkan transportasi publik yang terintegrasi. Betapa saya iri dengan Singapura dan Kuala Lumpur dengan sistem MRT dan Mass Rapid KL yang sangat memanjakan penduduknya. Membuat siapapun rela menanggalkan kendaraan pribadi dan memilih transportasi publik di dua kota tersebut. Ah, saya ingin sekali ini menjadi gagasan yang tidak hanya jadi wacana tapi dilakukan nyata di Jakarta.

5 tahun lalu saya juga ikut milih. Saya pilih Fauzi Bowo waktu itu, saya terbeli kampanye 'Serahkan pada Ahlinya', dan melihat catatan karirnya yang memang sudah lama di pemerintahan, jabatan sebelumnya waktu itu adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta. Saya juga terkesima dengan latar belakang pendidikannya yang merupakan lulusan master Planologi di Jerman (koreksi jika saya salah). Dari rasio tersebut, saya terbeli kampanyenya.

Kali ini saya kembali membeli kompetensi dan integritas salah satu pasangan kandidat, milik Faisal Basri dan Biem Benyamin. Tapi kali ini bukan sebagai orang yang sudah percaya dengan kompetensi dan integritas Faisal-Biem, justru saya ingin menguji kompetensi dan integritas pasangan ini.  Dengan memilihnya, dengan segala visi-misi yang telah ia paparkan pada pidato politiknya di depan anggota DPRD Jakarta. Saya ingin melihat, apakah akan bisa benar-benar jalan? Bisakah memperbaiki sistem yang salah? Bisakah membuat kota Jakarta menjadi kota yang nyaman untuk dinikmati bagi semua kalangan?

Comment