Hari itu saya menerima telefon dari nomor Singapura. Aneh, siapa yah? sebelum mengangkat saya mikir, "sebentar, saya nggak sedang habis kirim CV ke Google kan? hehe"

Orang regional? Hmm..belum pernah ada orang regional menelfon secara khusus kepada saya sih sebelumnya. Tapi mungkin saja kali ini ada Carat Singapore menelfon untuk urusan salah satu klien saya.

Terdengar suara orang tua di ujung telfon, dia menyebut nama saya di awal, dan menanyakan kabar saya. "Hei Farhan! how are you? still remember me? Mr. Raghani, we met at the train couple weeks ago."

Ah, ternyata mr. Raghani! Dia menelfon saya untuk menyampaikan bahwa post card yang saya kirim dari Krabi sudah sampai ke rumahnya. Tidak pernah terbersit dalam pikiran saya bahwa akan ada telfon nantinya dari orang yang saya kirimi post card. Sungguh saya nggak percaya dia menelfon nomor kantor saya, karena waktu itu saya bertukar business card dengan beliau, dan tidak mencantumkan nomor pribadi.

Saya bertemu dengan pasangan suami-istri paruh baya asal Singapura ini di kereta menuju Hat Yai (Thailand) dari KL Sentral, Malaysia. Si bapak bernama mr. Raghani, istrinya saya tidak sempat berkenalan nama. Beliau dalam perjalanan dari Singapore, ke Hat Yai untuk berlibur bersama istrinya. Kita menaiki gerbong kereta yang sama, sleepers class. Beliau berada di bawah compartment saya.

Setelah sampai di Padang Besar Station, dan turun untuk pemeriksaan imigrasi perbatasan Thai-Mal, kita bertegur sapa dan mulai bercerita. Dia bercerita mengenai pengalamannya traveling ke beberapa tempat kepada saya dengan senang hati. Tampaknya beliau memang traveler. Beliau mengaku sudah 4-5 kali ke Jakarta. Ia ingat tempat yang selalu ia kunjungi adalah Pasar Baroe, Mangga Dua dan daerah-daerah sekitar Jakarta Pusat.

Beliau bercerita betapa selalu menyenangkan mengunjungi Jakarta walaupun Ia mengakui bahwa Jakarta kini sudah semakin mahal (transport, meal, etc).

"your people are mostly kind, we like it.", begitu katanya. Saya seketika langsung merasa bangga memegang paspor hijau.

Obrolan kita hanya berlangsung 1 jam lebih di kereta itu. Sampai kita tiba di Hat Yai, kita berpisah. Saya meneruskan naik mini bus ke Krabi, beliau menuju hotel yang sudah beliau pesan sebelumnya di Hat Yai. Meski singkat, tapi percakapan tersebut membekas. Beliau terkesan dengan sikap ramah tamah penduduk kita.  Ini sudah menjadi trade mark tersendiri sepertinya bagi para traveler dunia yang sudah pernah mengunjungi Indonesia. selain tentunya keindahan alamnya. Dan beliau juga telah memberi kesan kepada saya bahwa tidak semua penduduk Singapura itu individualis dan tidak ramah.

Dan ini salah satu kejutan yang menarik dari sekian banyak cerita dari trip kemarin.

1 Comment