Kota dengan Aksara SansekertaCeritanya ingin menghabiskan sisa waktu libur yang ada untuk jalan-jalan ke suatu tempat. Kebetulan Willy, teman baik yang tinggal di Bandung ini juga sepertinya sedang butuh distraksi atas kejadian-kejadian beberapa hari terakhir. Dan kebetulan ada salah satu teman Willy, Annty, praktisi Parkour dari Prancis, yang ingin berkunjung ke Indonesia untuk Parkour trip dan salah satu kota tujuannya adalah Yogyakarta. Sontak saya lontarkan ide untuk pergi ke Jogja sekalian untuk jalan-jalan. "Lo bisa ikut Annty dan latihan parkour di Jogja, sambil kita jalan-jalan lah?", begitu kata saya kepada Willy.

Ide ini disambut baik oleh Willy. Sebuah impulsive tripItinerary cuma ada di kepala Willy, saya terima jadi. Zero expectation, bisa keluar dari Jakarta aja saya sudah bersyukur, setelah kurang lebih dua bulan dikejar-kejar deadline tesis.

Willy yang mengatur hampir semua itinerary, saya cuma titip sempatkan ke Ullen Sentalu dan urusan tiket pulang agar bisa langsung ke Jakarta. Dia bilang, akomodasi dia yang urus, dan soal dimana kita menginap, ternyata Willy juga sudah ngobrol dengan Anida, dan dia mempersilahkan kita untuk stay di tempatnya selama di Jogja.

Perjalanan dimulai sejak Selasa malam dari bandung dengan naik kereta api. Saya berangkat ke Bandung siang harinya. Sampai di Bandung jam 3 sore. Saya dijemput oleh Willy, dan kemudian berkenalan dengan Annty yang sudah berada di Indonesia sejak hari Sabtu, 1 Feb, dan langsung menuju Balikpapan untuk mengikuti jamming regional. Dia baru selesai berlatih dengan para praktisi dari Parkour Bandung sore itu.

Annty memang salah satu praktisi Parkour yang sudah setahun terakhir ini career break dan bepergian keliling dunia untuk Parkour trip. Ia mengunjungi banyak kota di mana terdapat komunitas Parkour. "This is my second time in Indonesia", ujarnya. Tahun lalu ia sudah mengunjungi Indonesia untuk mengikuti undangan praktisi parkour Indonesia untuk berlatih bersama.

Rabu pagi, sekitar jam 5, saya, Willy, Annty, tiba di stasiun Tugu Jogja. Dari situ kita ke rumah kakaknya Anida, tempat kita akan menginap. Ini pertemuan ke dua saya dengan Anida, setelah pada Desember lalu, saya berkenalan dengan Anida di acara #wegohangout setelah pulang dari solo backpackingnya selama 14 bulan. Matahari belum muncul ketika kita tiba di rumah Anida. Perjalanan di kereta, masih menyisakan lelah, meskipun saya sempat tertidur beberapa jam. Kita memutuskan untuk istirahat beberapa jam lagi sebelum kita melakukan jalan-jalan kali ini.

Jam 10 lewat, satu per satu mulai bangun tidur dan kelaparan. Reza dari Parkour Jogja bergabung dengan kami. Ia akan menemani Willy dan Annty untuk jamming Parkour di Jogja. Tapi sebelum itu, ia juga akan menemani kami berkeliling Jogja. Setelah mandi dan bersiap, kita sarapan dulu di gudeg Yu Djum sebelum berangkat ke Goa Pindul untuk cave tubing.

Gudeg Yu Djum merupakan salah satu warung gudeg yang cukup terkenal di Jogja. Ini kali pertama saya mencicipinya. Jangan tanya saya gimana rasanya, karena saya bukan penggemar gudeg, rasanya terlalu manis di lidah saya. Tapi kreceknya enak! Hehe. Yang menarik kalau makan di Yu Djum, kita akan ditemani oleh grup musik keroncongan yang terus memainkan lagu-lagu lawas dengan aransemen keroncong yang sangat merdu di telinga. Sesuatu yang jarang bisa saya rasakan di Jakarta. Dan kami sangat menikmatinya.

Setelah kenyang, kami berangkat ke Gunung Kidul menuju Goa Pindul untuk cave tubing. Sebelum itu Feikal, praktisi Parkour Jogja juga bergabung dengan rombongan trip kali ini. Sungguh baik sekali penghuni Jogja ini mau menemani kita menikmati kotanya. Suasana jadi semakin ramai dan menyenangkan. Dan petualangan pun dimulai. (cont)

Image Image

1 Comment