P1060337

Terinspirasi dari tulisan Anida di blognya, saya jadi ingin menulis sesuatu. Sesuatu yang juga saya rasakan ketika saya bepergian.

Di awal-awal saya traveling, saya kerap fokus pada destinasi yang ingin saya tuju. Bagaimana saya harus sampai ke sana? Berapa hari saya di sana? Harus lihat apa di sana? Dan seterusnya.

Hal ini mungkin didorong oleh rasa penasaran saya pada tempat itu. Dari cerita-cerita orang mengenai tempat itu, review blog, majalah, dll. Karena memang review-review tersebut bisa jadi faktor pendorong saya melakukan sebuah perjalanan. Hal ini kerap saya lakukan sampai beberapa kali perjalanan. Awalnya saya tidak menyadarinya, dan menganggap itu sebagai suatu hal yang wajar. Tapi setelah beberapa kali bepergian, tiba-tiba saya menemukan pembelajaran lain. Saya menemukan premis lain.

Premis menurut Kamus Merriam-Webster adalah a statement or idea that is accepted as being true and that is used as the basis of an argument.

Akhir-akhir ini, tiap kali saya melakukan suatu perjalanan, kerap kali mengerucut ke satu premis ini, Traveling is about the journey, not the destination. Traveling itu bukan tentang destinasi yang kita tuju atau sudah kita penuhi, tapi hal-hal apa yang kita dapatkan selama perjalanan itu berlangsung. Traveling adalah usaha saya untuk mengkonstruksi kembali atas nilai-nilai yang bertebaran di muka bumi ini. Proses mengolah rasa yang kita terima dari ke lima panca indra.

Ya kenapa saya anggap ini sebagai premis dan bukan kesimpulan? Karena saya percaya ini baru premis A, dan masih banyak lagi premis-premis yang mungkin akan memaksa saya melakukan perjalanan lebih banyak lagi. Premis saya dan kalian ketika traveling juga mungkin belum tentu sama. Dan, premis yang berbeda inilah yang membuat group trip terasa lebih 'susah', karena kita akan menemui point of interest yang berbeda dari masing-masing traveler yang disadari atau tidak berangkat atas premis tersebut.

Jadi, apa premis kalian dalam melakukan traveling?

2 Comments