11679454914_7910f6f4dd_o

Foto di atas diambil kira-kira dua minggu yang lalu, 1 January 2014, di atas kapal KM Bahari Express yang masih berlabuh di pelabuhan Balohan, Sabang. Nggak nyangka bisa melihat matahari pertama 2014 di ujung barat kepulauan Indonesia.

29 Desember 2013, kira kira jam 10 pagi  saya menginjakkan kaki di Pulau Weh. Ini pertama kali saya menginjakkan kaki di pulau ini. Benar-benar nggak nyangka sih, saya bisa sampai ke Sabang. Kota yang saya kenal melalui lagu 'Dari Sabang Sampai Merauke' yang kerap dinyanyikan ketika duduk di Sekolah Dasar.

Idenya adalah untuk melihat matahari terbit pertama di tahun 2014, saya mengusulkan ide ini ke Maul dan Intan. Mereka memang berencana untuk pergi ke Weh dari tanggal 25 Desember bersama rombongan brotrip lain, tapi rencana awal hanya sampai tanggal 29 Desember. Dan ide saya dibeli oleh mereka, mereka memutuskan untuk extend sampai tanggal 1 Januari 2014. Yeah ada teman!

Saya menginap di Iboih Inn, di daerah Iboih. Tempat Maul dan Intan menginap sebelumnya. Tempat ini dikelola oleh Ibu Liza dan suaminya. Tempatnya enak sekali, ratenya sekitar 300,000-an per malam. Ada beberapa kamar yang pemandangannya langsung ke laut. Cakep sekali! Pengelola tempat ini, Ibu Liza juga ramah sekali, sosoknya kalau kata teman saya seperti Tante lo, yang agak judes, ceplas ceplos, tapi sebenarnya baik. Rendy, salah satu rombongan brotrip, bercerita soal kelakuan ceplas ceplos Bu Liza ini. Pernah, ketika ada calon pelanggannya menelfon untuk booking penginapan untuk hari itu, dan mendengar rombongan yang mau menginap sebanyak 40 orang, ia nyeletuk spontan di telefon, "Pak, nginep aja di Musholla! kamar saya cuma ada 16, dan lagian kenapa baru telfon hari ini".

Apa yang Seru di Weh?

Salah satu tujuan saya ke Pulau Weh adalah melihat pemandangan bawah laut Pulau Weh. Hampir tiga bulan sejak mendapatkan diving license, and i was very excited. Sayangnya penyelaman pertama saya dan kedua tidak begitu menyenangkan. Di penyelaman pertama, saya menyelam dengan kondisi kurang fit, karena malamnya hampir tidak bisa tidur karena kebanyak minum kopi Aceh. Badan rasanya kaku banget, beberapa kali saya hampir keram, harus banyak beradaptasi dengan site yang lumayan berarus. Oke, lesson learned, jangan pernah menyelam dengan kondisi kurang tidur. Penyelaman ke dua, saya akan buatkan post tersendiri nanti, karena ini merupakan penyelaman yang tidak bisa saya lupakan, hehe.

Total, saya empat kali menyelam di P. Weh dan selama saya menyelam di sini, saya bertemu dengan gurita, barracuda, coral garden yang begitu indah, dua kali muntah di atas kapal karena gelombang yang nggak santai, dan menyelam di underwater volcano, menarik sekali.

Buat yang tidak bisa menyelam, kalian bisa snorkeling di sini. Dari depan Iboih Inn kita bisa langsung berenang, snorkeling, canoeing, atau sekedar leyeh-leyeh di bungalow. Sewa peralatan snorkeling, per itemnya hanya menyewa Rp. 15,000 seharian, kalau saya tidak salah. Satu hal yang cukup seru dilakukan adalah Canoeing. Saya dan Intan menyewa satu canoe dari pantai Iboih dan bermain-main sampai ke arah penginapan. Ternyata canoeing cukup seru! haha..

Sampai Sabang, nggak lengkap kayanya kalau tidak ke tugu nol kilometer. Berdiri di titik terjauh Indonesia bagian barat. Meskipun tempatnya tidak terawat, tapi ada kebahagiaan tersendiri bisa berdiri di area tersebut. Sambil makan rujak Aceh, kita menikmati sunset yang sedikit tertutup awan sore itu di titik nol kilometer Indonesia.

nol masih iboih beach leyeh kamar iboih iboih beach canoeing

1 Comment