The Canyon, courtesy @justmaul Ini penyelaman ke dua saya di P. Weh. Saya menyelam di The Canyon, dan pagi itu cuaca cukup cerah. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan pagi itu. Saya merasa lebih fit, karena bisa tidur dengan nyenyak malam harinya. "Ok, lets do this!", gumam saya.

Sampai lokasi, Dive Master saya mulai brief penyelaman hari itu. Ia menerangkan titik start penyelaman, kemana titik akhir penyelaman, apa yang bisa dilihat di bawah laut. It looks good on me. Dan satu persatu penyelam mulai turun dari kapal, lalu saya pun turun ke air.

Saya melakukan start yang kurang bagus, ketika aba-aba turun keluar, saya masih sibuk mencari inflator. Ya seharusnya memang ada di sebelah kiri saya, tapi entah kenapa saya sampai mencari ke belakang lengan. Bodohnya! Dan saya jadi sedikit ketinggalan dengan yang lain. Ternyata setelah turun, di bawah arusnya cukup kencang. Penyelam lain saya lihat sudah turun ke dasar untuk menghindari arus, dan itu tidak  segera saya lakukan. Susah sekali saya melakukan manuver untuk turun ke bawah, saya sampai harus dibantu oleh Yuyun, instruktur selam dari Rubiah Tirta Dive, operator Dive yang saya saat itu.

Pengalaman menyelam saya masih sedikit, baru enam kali dive log saat itu, bagi saya arus ini cukup kuat. Entah bagi penyelam lain. Rombongan dive sempat berhenti beberapa menit, entah untuk apa karena saya tidak sempat melihat sign dari Leader ketika itu, dan beberapa penyelam terlihat berpegangan batu atau karang di dasar untuk membantu agar tidak terbawa arus. Lumayan menghabiskan beberapa menit untuk menyelam melewati arus tersebut. Tapi setelah melewati sebuah tebing, arusnya sedikit menghilang, barulah saya bisa fokus melihat pemandangan di sekitar saya. Dan belum pernah saya lihat coral garden sebanyak itu, indah sekali. Dibanding penyelaman pertama, tempat ini lebih bagus, pikir saya waktu itu. Saya sempat mengecek kedalaman menyelam saya saat itu. Kita menyelam sampai di kedalaman 27 m. Saya belum pernah menyelam sedalam itu. Tapi lagi lagi kita melewati medan yang cukup berarus, saya harus berjuang cukup keras untuk melawan arus dan menghindari merusak coral garden. Sayangnya, saya beberapa kali terpaksa menyenggol beberapa coral, karena tidak bisa mengontrol buoyancy, my bad.

Saya sepertinya tidak menyadari bahwa kita sudah sampai di Canyon yang dimaksud, karena kondisi di bawah yang masih terasa arusnya, saya fokus untuk mengatur keseimbangan. Lalu, saya teringat untuk mengecek tabung udara. Betapa kagetnya saya bahwa udara di tabung saya tinggal 40 bar dan entah di kedalaman berapa. Langsung saya mencari Dive Instructor terdekat, untuk memberitahu dia. Syukurlah saya langsung melihat Yuyun, dan memberikan tanda kepadanya. Dia memberi tanda OK, dan berinisiatif mengajak saya ke lokasi yang ditentukan untuk mengakhiri penyelaman. Saya mengikuti instruksinya bersama salah satu diver lain, Adi, yang kelihatannya juga sudah harus naik. Sayangnya, di tengah perjalanan ke poin yang dituju, saya mulai merasakan susah nafas. Oke, saya kehabisan udara. Disinilah kepanikan terjadi, di kedalaman kurang lebih 15 m.

Saya segera kasih kode untuk meminta regulator cadangan Adi, yang entah kenapa, saya tidak bisa melepaskannya dari cantolan di BCD. Shit, susah banget! Yuyun juga berusaha untuk melepaskannya, tapi tidak juga terlepas. Saya mencoba beralih ke regulator cadangan Yuyun. Panik, karena saya mulai tidak bisa bernafas. Beberapa kali air laut masuk ke mulut. Dalam menyelam memang harusnya tidak boleh panik. Tapi saya belum pernah mengalami kejadian ini, dan pengalaman menyelam saya masih kurang untuk bisa mengatasi situasi seperti ini. Di tengah kepanikan, akhirnya saya berhasil mendapatkan udara dari regulator. Saya bernafas kembali. Saya tidak ingat itu regulator siapa, tapi saya bisa melihat keadaan sekitar dan akhirnya Yuyun berhasil melepaskan regulator cadangan buddy yang tadi coba saya lepaskan, dan saya akhirnya menggunakan regulator tersebut. Fiuh, thank God.

Setelah bernafas kembali, dan dalam keadaan masih sedikit panik, hal selanjutnya yang terlintas di otak saya adalah, segera mungkin ke permukaan. Saya mau tidak mau memaksa Adi untuk naik ke permukaan, karena saya memakai regulator cadangannya. Seharusnya hal tersebut tidak boleh dilakukan, karena seharusnya saya harus melakukan safety stop terlebih dahulu. Kedalaman penyelaman saya saat itu mencapai 27 m, dan mungkin terlalu banyak nitrogen di tubuh saya. Saya bisa terkena Decompression Sickness jika saya tidak mengeluarkannya terlebih dahulu. Sepertinya Yuyun mencoba mengingatkan, tapi saya terlanjur ke atas.

Saya berhasil ke permukaan, dan naik ke kapal. Mendapati diri saya lemas dan mual karena beberapa kali meminum air laut. Sampai di kapal, saya sempat berpikir untuk nggak akan menyelam lagi, tapi ternyata cuma bertahan beberapa jam. Karena setelah skip diving siang hari, saya sudah mendaftar lagi untuk penyelaman pagi esok harinya. hehe. Alhamdulillah nggak sampai trauma, but that was the most stressful moment in my life! 

that stressfull moment! captured by @justmaul

photos courtesy @justmaul

Comment