museum tsunami

Saat itu hujan gerimis di Banda Aceh, ketika saya keluar dari Museum Tsunami. Lutut masih lemas setelah melihat video dokumentasi musibah tsunami di dalam ruang audio visual. "Pak, Kapal di atas rumah apakah dekat dekat sini pak? Kalau boleh saya mau diantar ke sana?", tanya saya ke pak supir becak motor. "Bisa, ada juga situs yang lebih dekat dari sini, PLTD Apung, kalau mau ke sana bisa saya antar juga?", ucapnya. "Oh, boleh pak!". Saya ingin melihat lebih dekat musibah tsunami yang menimpa kota ini 9 tahun lalu.

Di atas becak motor, saya diam sejenak melihat jalan-jalan yang saya lalui. Saya membayangkan lokasi ini dulu dilalui oleh air bah yang datang dari laut yang jaraknya sekitar 5 km dari sini dan menerjang rumah-rumah dan gedung-gedung yang dilaluinya. Lalu saya tiba-tiba berkata ke bapak yang menyetir motor di sebelah saya ini, "Saya merinding pak habis nonton video di museum barusan", Ia merespon, "Sedih ya?" lalu dia terdiam. Saya teringat dengan obrolan saya dengan supir taksi yang mengantar saya ke hotel dari bandara. Ia bercerita bahwa setiap tahunnya tanggal 26 Desember, orang Aceh selalu memperingati kejadian tsunami. Orang-orang Aceh pasti terlihat sedih pada tanggal itu, karena kehilangan sanak saudaranya.

Saya bertanya lagi ke bapak supir becak, yang belakangan saya kenal dengan Pak Edi, "Bapak waktu hari itu sedang ada di mana?". Ia lalu menjawab dengan suara agak pelan, saya nyaris tidak bisa mendengarnya. Yang saya dengar adalah, Ia saat itu sedang bekerja, dan Ia lolos dari kejadian tersebut sedangkan saudaranya yang ada di daerah lain tidak. Ia menceritakannya sambil menunjukkan bulu kuduk lengannya yang berdiri. "Lihat nih mas, saya merinding kalau mengingatnya", ujarnya sambil menunjukkan lengannya. Saya pun berhenti bertanya lebih jauh tentang keluarganya setelah mengucapkan turut belasungkawa saya.

Pak Edi mengantar saya ke site PLTD Apung. Lokasi ini adalah salah satu monumen yang dibangun dari sisa-sisa kejadian tsunami. Saya kira ini adalah gedung atau bangunan pembangkit listrik yang hancur akibat tsunami, ternyata ini adalah bangkai tangker sebesar.. ya kapal tangker, yang dulunya berfungsi entah sebagai pembangkit listrik atau sejenisnya. Ya, kapal ini terhempas hampir 5 km dari bibir pantai. Saya merinding begitu melihatnya.


PLTD Apungkapal karam di daratan

Kemudian saya diantar ke situs-situs lain yang dekat dari situ, ke lokasi dua bangkai kapal yang nyasar di pekarangan rumah warga. Kapal ini sepertinya dibiarkan begitu saja di tempat ini, pun tidak dipugar seperti lokasi PLTD Apung dan Kapal di Atas Rumah. Tapi ambience yang saya rasakan masih sama, merinding saya melihatnya.

Situs-situs yang saya kunjungi ini cukup menggambarkan betapa besarnya gelombang tsunami yang datang dari laut. Melihat geografis kota ini yang cukup dekat dari laut, dan dampak yang dihasilkan, saya bisa menggambarkan traumatis yang timbul saat itu. Salah satu driver mobil yang kita sewa bahkan mengatakan bahwa ada salah satu temannya yang menjadi gila karena istri dan anaknya hilang setelah tsunami terjadi. Driver tersebut juga kehilangan anak dan istrinya, tapi ia lebih beruntung karena bisa ikhlas dan akhirnya kini sudah menikah lagi dengan perempuan lain.

Saya beruntung bisa menghabiskan banyak waktu ngobrol dengan beberapa warga Aceh yang saya temui ketika di sana. Mereka sangat ramah dengan pendatang. Hampir seharian saya berkeliling kota diantar Pak Edi, dan selama di jalan juga sempat tidak sengaja bertemu, ngobrol, makan siang dengan warga Aceh lainnya yang berprofesi sebagai supir becak motor, pedagang atau penjaja suvenir di sekitar lokasi situs tsunami. Mereka tampak sudah bisa menerima musibah tersebut dan bisa meneruskan hidup mereka. Tidak ada kalimat lain yang lebih pas yang bisa saya ungkapkan setelah mengunjungi kota ini selain.. Tuhan bersama penduduk-penduduk Aceh.

Pak Edi (ke 2 dari kiri) dan beberapa penduduk lokal

Comment