Ini kali pertama saya naik gunung. Sebelumnya pernah sih ke Anak Krakatau dan Gunung Geulis di Jatinangor, tapi sepertinya itu bukan tergolong gunung. Jujur sih, saya selalu ragu untuk naik gunung beneran, karena melihat postur yang kurus dan selalu meragukan ketahanan fisik ketika mendaki. Ditambah, saya nggak pernah punya pengetahuan dasar mengenai pendakian gunung. Tapi akhirnya saya memberanikan diri setelah teman-teman kantor membuat rencana untuk Naik Gunung Untuk Pemula. Hal pertama yang dilakukan adalah, mencari orang yang telah punya pengalaman naik gunung sebelumnya dan bisa menjadi ‘guide’ atau mentor selama pendakian. Kebetulan XM Gravity punya satu ekskul (nggak resmi) bernama #XMHike. #XMHike adalah event trip pendakian yang dilakukan oleh anak-anak XM Gravity. Kalau nggak salah sudah pernah dilakukan selama dua kali. Ketuanya adalah om Lino, former XM troopers yang kini sudah ‘lulus’ dari XM Gravity. Untungnya om Lino mau menemani kita-kita yang nubie ini. Ditambah lagi, salah satu graphic designer baru XM Lab, Dhika juga ternyata hobi naik gunung, dan dia juyga tertarik untuk join.  Setelah ngobrol mencari-cari gunung mana yang cocok untuk pemula, diputuskan bahwa kita akan mendaki gunung Papandayan, karena menurut om Lino, gunung Papandayan jalurnya tidak terlalu sulit dan lama perjalanan juga termasuk cepat. Kita yang nggak ngerti ini memutuskan untuk ikut saja! 

Persiapan Pendakian.

When our graphic designer meet his other interest, Hiking. This is what happened.

TO-PAPANDAYAN

Dhika, salah satu graphic designer di kantor membuat infografik persiapan pendakian ini. Nggak hanya keren! Tapi helpful banget! Saya jadi tahu apa yang harus dipersiapkan. Thanks mate!

Pendakian

Datanglah hari yang ditunggu-tunggu. Setelah semua siap dengan ransel masing-masing, berangkatlah kita menuju Garut. Dengan naik bus Primajasa dari Lebak Bulus, sampai ke terminal Garut membutuhkan waktu 4,5 jam perjalanan. Alhamdulillah lancar perjalanan. Sampai di terminal, kita istirahat di satu musholla dekat terminal, dan cari warung makan, karena kita belum sempat makan ketika berangkat. Rencananya, jam 5 sehabis solat subuh kita siap-siap untuk berangkat ke kaki gunung.

Jam 5 kita berkumpul di dekat terminal, sambil sarapan bubur di salah satu warung. Beberapa teman ada yang membeli bekal makan untuk siang hari. Matahari mulai muncul dan akhirnya kita mendapatkan angkot yang bisa disewa untuk berangkat ke kaki gunung. Ternyata angkot ini muat 16+1 sopir jon! “Mulai seru nih!”, pikir saya.

Sampai di desa terakhir, kita harus mengganti angkot dengan mobil bak karena lokasi pos pendakian harus melewati jalan yang rusak dan hanya bisa dilewati oleh mobil dengan ban khusus. Di sini juga makin seru lagi, lobang segede-gede gaban bisa dilewatin sama supir pick upnya. Nyerah gue sama kemampuan menyetirnya.

Sampailah di kaki gunung, dan perasaan excited pun semakin menjadi-jadi. Pemandangan dari bawah bagus banget. Cuaca juga lagi cerah-cerahnya. Setelah melapor ke pos dan briefing dan doa sebentar, akhirnya berangkatlah kita! “Lets do this!” I said. (to part 2)

Pose

di kaki gunung(courtesy of Ibun)

 

 

Comment