Akhirnya rumah berinisial FD House di DF Housing Baiturrahim selesai dibangun untuk pembangunan tahap awal di bulan Desember 2016, sesuai dengan gambar rancang bangun yang dibuat arsitek kami sekaligus inisiator DF Housing, Mande Austriono. Selesainya pembangunan tahap awal ini ditandai dengan terpasangnya pintu rumah depan dan belakang.

FD House - DF Housing

Untuk merayakan selesainya pembangunan rumah, kami merayakan malam tahun baru bersama 3 penghuni rumah di bagian belakang komplek dan juga teman dekat. Yah, lumayan untuk melepas stress mandorin pengerjaan rumah yang aslinya sih bikin pusing karena ada aja masalahnya. Namanya juga bangun rumah yah.

DF Housing - New Year Eve 2017

**

7 Bulan Kemudian, Juli 2017.

**

Lalu sudah selesaikah pembangunannya? Oh tentu tidak! Kedua pemilik rumah ini, dengan segala maunya masih terus membangun. Di awal tahun 2017 saja, kami sudah mulai melakukan pembangunan tahap II, yaitu extra room + taman belakang, yang fungsinya bisa untuk beberapa kebutuhan, tapi untuk saat ini diperuntukkan untuk kamar tidur.

Desain awal FD House hanya terdapat dua kamar tidur saja. Kamar utama dan 1 kamar lainnya, yang diproyeksikan sebagai kamar anak. Kemudian kami berpikir, kalau sudah punya anak nanti dan kami butuh babysitter / asisten rumah tangga, dia mau tidur di mana? Ide membangun extra room ini kemudian diputuskan untuk mengambil setengah lahan halaman belakang. 

FD House - extra room
Designed by Mande Austriono

Designed by Mande Austriono

Extra room ini sengaja kita bikin multifungsi nantinya, ruangan tertutup yang bisa diperuntukkan sesuai kebutuhan, ada deck di bagian atap dan tangga untuk akses ke atap supaya bisa jadi space multifungsi. Siap untuk jadi tempat hangout, minum-minum lucu, tapi sepertinya penggunaan yang paling sering adalah untuk jemur pakaian, percayalah.

Setelah jadi, extra roomnya bisa dilihat di bawah, minus rail tangga yang belum dibikin. Foto diambil di bulan Februari. 

FD House - Extra room (rough)
Menikmati tiap wip dengan foto-foto, feelnya pasti beda nanti kalau sudah jadi. 

Menikmati tiap wip dengan foto-foto, feelnya pasti beda nanti kalau sudah jadi. 

FD House - Extra room

Di akhir bulan Juli ini, pelan-pelan rumah kami mulai terisi, sebagian diisi dengan beberapa barang lama dari rumah sebelumnya, atau hadiah dari orang tua, teman, tapi kebanyakan membeli perabotan baru karena memang sebelumnya nggak punya, rusak, atau ya pengen beli baru aja. 

Sejak awal tahun sampai bulan Juli ini, akhir pekan kami jadi lebih banyak diisi untuk mengisi rumah dan menikmati fase kehidupan baru. Seru juga sih, jadi banyak tinggal di rumah, bertukar info dengan tetangga tentang kebutuhan rumah, sampai beli barang atau tanaman bareng. Satu lagi perks-nya punya rumah yang well designed (self-proclaimed), kalau cuma ingin ngisi feed instagram, nggak usah keluar rumah lagi. Ehe.  

Di postingan sebelumnya tentang rumah kami sudah dijelaskan bagaimana konsep cohousing sebagai salah satu solusi kepemilikan rumah di kota. Lalu, setelah rumah selesai dibangun, bagaimana rasanya hidup atau tinggal di lingkungan cohousing? Bedanya apa dengan komplek perumahan lainnya? Hmm.. saya nggak tahu seberapa signifikan bedanya dengan tinggal di komplek perumahan cluster. Karena belum pernah tinggal di komplek cluster ataupun townhouse. So far, banyak terjadi diskusi mengenai fasilitas umum (fasum) di komplek, which is good, karena memang ada dana kolektif untuk fasum cohousing. Durasi ketemu tetangga juga jadi lumayan sering setelah full pindahan. Rumah kami ke-2 dari belakang, jadi kalau lewat, paling tidak tegur sapa dengan penghuni di depan. Untuk beberapa tetangga, kami lumayan sering ngobrol, tapi ada juga yang jarang ketemu. Dua penghuni rumah di DF Housing juga sampai saat ini belum menempati rumahnya, makanya komplek masih terlihat sepi kadang-kadang.

Sebagai penghuni cohousing, sebisa mungkin mencoba menjalani layaknya konsep cohousing yang saya baca. Karena intinya ada di collaborative tersebut. Saling berkontribusi untuk komunitas/neighbourhood demi kenyamanan bersama. Semua penghuni seharusnya juga sudah paham dengan hal tersebut. 

Tinggal di komunitas cohousing jangan dianggap tidak ada permasalahannya. Masalah tetap ada layaknya permasalahan lingkungan rumah baru lainnya. Seperti mencari tukang sampah komplek, mencari satpam, mau membangun pos satpam seperti apa? dan lain-lain. Situasi ini memang harus dibicarakan. Kalau di beberapa komplek cluster, mungkin masalah Security atau iuran sampah sudah dikelola oleh management developer. Kalau di DF Housing, sudah tidak memiliki developer yang bisa dikejar-kejar lagi untuk urusan rumah atau fasilitas umum pasca semua bangunan dan fasum awal diselesaikan dan surat-surat selesai diberikan. Karena yang saya amati peran mereka memang krusial di awal proses DF Housing. Selebihnya memang dikelola swadaya penghuni cohousing. Jadi, untuk soal keamanan, kenyamanan dan kerukunan bertetangga nantinya di komplek DF Housing Baiturrahim ini sudah menjadi tanggung jawab sepenuhnya oleh penghuni-penghuninya. 

DF Housing Baiturrahim
FD House from Backyard
Meminjam halaman depan rumah tetangga untuk menjemur Kalandra

Meminjam halaman depan rumah tetangga untuk menjemur Kalandra

Tertarik untuk mencoba peruntungan di DF Housing? mungkin bisa mencari informasi di website DF Housing dan join Newsletternya. Kalau saya bilang sih, selain usaha yang lebih, faktor jodoh-jodohan juga sih kalau mau cohousing berikutnya. Ada persoalan timing kesiapan para calon penghuninya yang menentukan terlaksananya DF Housing vol. 2. Karena dengar-dengar peminat cohousing di newsletter sebenarnya udah sampai seribuan katanya. 

Atau ada yang mau bikin cohousing sendiri karena nggak sreg dengan DF Housing? Bisa banget kok, source cara-caranya bisa digoogling kok. Mande pun juga bukan yang pertama membawa konsep cohousing ke Indonesia, di situsnya juga disebutkan kalau konsep cohousing ini sudah coba disebarluaskan oleh Marco Kusumawijaya dan Elisa Sutanudjaja dari tahun 2009 kalau dilihat dari sumber-sumber yang tersebar di internet. 

Comment