Viewing entries tagged
Jakarta

Comment

Gojek: Mengakali Transportasi Publik Jakarta

Akhir-akhir ini Jakarta sedang berbenah. Pembangunan terlihat di mana-mana, yang paling terlihat jelas ada pada sarana transportasi publiknya. Pemerintah sedang mengusahakan moda transportasi publik yang lebih baik dengan membangun MRT, Jalan layang untuk Busway, atau jalan layang untuk kendaraan pribadi. Yang menarik, tidak hanya pemerintah yang bekerja, sejumlah pengusaha/technopreneur juga mulai tertarik untuk masuk ke ranah transportasi publik ini. Sebut saja ada Uber, Grab Taxi, Gojek dan terakhir ini ada Grab Bike. Pada dasarnya tujuan-nya sama, mereka berlomba-lomba menawarkan alternatif moda/sistem penggunaan transportasi di jakarta.

Saya tertarik berbicara soal Gojek. Saya mulai mengenal dan menggunakan gojek sejak cara memesannya masih via telepon. Saat itu saya merasa jasa ini sangat berguna bagi saya, karena servicenya sampai level pembelian tiket pertandingan sepakbola timnas Indonesia yang waktu itu lagi rame-ramenya. Bayangin betapa jadi lebih mudah hidup saya, ketika sistem penukaran tiket secara langsung bisa diakali dengan meminta tolong tukang ojek? (Sistem bodoh mana yang masih mengharuskan mengambil tiket fisik setelah beli online?). Anyway, sejak saat itu, saya tahu saya akan sering memakai gojek. Lebih sering saya gunakan untuk jasa kurir, untuk antar barang, ngambil barang ketinggalan, beli tiket nonton bola, nonton film, dll.

Setelah cukup lama, akhirnya gojek mengeluarkan mobile apps. Nah, akhirnya ada progress? Saya pikir. Karena ya, saya merasa untuk service sebagus ini, rasanya sayang sekali kalau masih pakai sistem konvensional, harus telfon dulu ke call center dan bayar langsung ke tukang ojek? Sepertinya sistemnya bisa lebih baik dari ini, saya pikir. Dan Apps baru inpun menawarkan solusinya. Apps Gojek ini bisa digunakan untuk memesan ojek, sekaligus menjadi tempat transaksi online untuk kedua belah pihak, pelanggan dan tukang ojek. Akhirnya saya langsung coba apps-nya dan meski di awal appsnya masih banyak bug, tapi tetap saya pakai karena percaya dengan service ini.

Gojek Apps muncul berbarengan dengan promo free credit. Sebuah promo bonus free credit with referall code. Triggering orang untuk install apps dengan iming iming free credit Rp. 50,000. Dengan program referal codenya, mereka menawarkan bonus free credit Rp 50,000 untuk masing-masing pihak dari tiap kode yang diinput di apps (saat itu masih mekanisme lama), saya sebagai pelanggan dengan senang hati menyebarkan dan merekomendasikan penggunaan gojek melalui apps. Dan membujuk teman memakai referall code gojek (anyway, kode gojek saya 110930 yah) Nah di sinilah momen di mana Gojek akhirnya mampu mencuri perhatian orang-orang dan mendorong untuk mencoba servicenya. 

Tapi dari semua itu, yang membuat saya menyukai service gojek ini adalah, bagaimana tim gojek mampu memanfaatkan teknologi dan mengembangkannya untuk memudahkan hidup orang banyak. Tidak hanya kita sebagai pelanggan, tetapi juga para tukang ojek. Ya mereka memang merangkul para tukang ojek yang sudah ada, yang selama ini jalan dengan sistem lama, menunggu di pangkalan ojek. Mereka berhasil meyakinkan para tukang ojek ini untuk menggunakan sistem mereka dan diakui oleh banyak tukang ojek yang saya temui, sejak bergabung dengan gojek, penghasilan mereka jauh lebih baik dan lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga. Sistem bagi hasil antara manajemen gojek di tiap transaksi juga tidak terlalu membebani para tukang ojek dan dirasa masih wajar. Courier service dan beli antar makanan/barang juga menjadi faktor pendukung di mana jasa mereka makin diperlukan di tengah jadwal padat kaum menengah jakarta dan tingkat kemacetan jakarta yang semakin gila. 

Selain kisah sukses, cerita gojek juga semakin meluas dan melebar sampai ke ranah kecemburuan sosial di kalangan tukang ojek. Mereka yang belum atau tidak tertarik dengan sistem yang ditawarkan gojek mulai mengusik para tukang ojek yang memakai jaket warna hijau ciri khas mereka. Beberapa tukang gojek mulai diintimidasi dan dilarang melewati beberapa area yang terdapat pangkalan gojek di dekatnya. Gojek dianggap mengambil lahan kerja mereka. Saya sejujurnya kurang tertarik dengan isu ini, karena saya tahu, masalah ini akan terpecahkan jika saja, tukang-tukang ojek ini bisa berpikir lebih terbuka dan mau menerima perubahan. Ya, mereka harus mengakui kalau sistem baru ini lebih baik dan sudah terbukti bisa membantu meningkatkan hasil mata pencahariaan mereka. Sayangnya belum semua tukang ojek berpikiran seperti itu. 

foto: @willyirawan mencoba Gojek di Bali.

gojek.jpg


Comment

2 Comments

Mencoba Experimental Traveling

Dua minggu yang lalu, saya pergi ke Bandung. Kebetulan ada teman yang akan menikah di sana. Karena tidak ada kerjaan juga di Jakarta, saya memutuskan untuk pergi.

Tidak ada yang spesial dari rute Jakarta-Bandung sebenarnya. Hanya dua jam waktu tempuh yang diperlukan untuk mencapai Bandung via tol Cipularang. Karena hampir tiap pergi ke Bandung saya selalu menyetir mobil sendiri atau menumpang mobil bersama teman-teman. Kali ini saya ingin coba sesekali shuttle service dari Jakarta. Sendirian.

Sebenarnya ada misi lain sih, kenapa tiba-tiba saya jalan sendiri ke Bandung, menggunakan shuttle service . Saya pernah baca tentang experimental traveling yang tertulis di blog @ranselkecil. Saya tertarik dengan konsep tersebut. Menurut tulisan tersebut, ide experimental traveling adalah mendapatkan pengalaman dan perspektif baru tentang suatu tempat melalui cara-cara yang tidak biasa. Cara ini tidak perlu mahal, tetapi biasanya penuh spontanitas, jenaka dan kejutan.

Saya pikir benar juga. Tak perlu kita merencanakan perjalanan wah ke luar negeri kali ini. Cukup maksimalkan saja rencana perjalanan atau rutinitas yang akan dijalani. "Sesungguhnya kamu hanya ingin lebih menikmati hari-harimu di bumi kan?", bisik saya dalam hati.

Nah, perjalanan kali ini mungkin bisa masuk ke dalam kategori experimental traveling tersebut (bagi saya). Karena saya pun sudah lupa kapan terakhir kali pergi dengan travel dengan rute Jakarta-Bandung. Saya ingin mencicipinya kembali.

Benar saja. Perjalanan Jakarta - Bandung kali ini terasa lebih merdu. Lebih syahdu. Ditemani playlist lagu dan Bilangan Fu. Perjalanan terasa sunyi tapi memori menari-nari. Sesekali mata terpejam, sesekali membuka lembar demi lembar buku ini. Destinasi tak lagi penting kini, saya sedang menikmati sensasi ini. Mengikuti visual yang tersaji. Menangkap memori.

---------

ps: Terima kasih untuk @willyirawan, Anti, @budi, @andhanieputri, @rangga_rp, @wikupedia yang telah menemani kunjungan ke Bandung saya kali ini. Cheers!

2 Comments

Comment

Jakarta Edisi Pilkada

Seorang ibu paruh baya baru saja masuk ke dalam bus transjakarta yang saya naiki. Dengan raut muka lelah tampak masih ia coba melangkah, susah payah menyeberangi batas tepi shelter bus ini.  Sampai di dalam bus, Ia masih harus berjibaku dengan penumpang lain berebut tempat nyaman, sampai Ia tiba di tujuan. Diam-diam, dada ini sesak menahan nafas melihat adegan itu.

Kota ini memang keras. Saya merasa hukum alam siapa yang kuat dia yang bertahan itu memang masih terus ada entah sampai kapan. Hanya saja, ada hal-hal yang seharusnya bisa diusahakan menjadi lebih baik. Yang bisa membantu orang-orang seperti ibu itu untuk menjalani hari-harinya dengan lebih layak. Salah satunya dengan menghadirkan sistem transportasi publik yang baik di kota ini, agar bisa berangkat dan pulang bekerja dengan aman dan nyaman.

Transportasi publik yang baik adalah impian saya yang paling sederhana dari kota ini. Sudah hampir jenuh saya dengar keluhan orang tentang macetnya Jakarta. Agak bingung sih,mau mulai dari mana untuk membantu mewujudkannya. Selama ini cuma bisa bantu dengan mengurangi volume berkendara dengan mobil pribadi di hari kerja.

Tapi, percumalah kalau kontribusi kita tidak dibarengi dengan kebijakan manajemennya maupun dukungan pemerintahnya. Jangan sedih! Sebentar lagi pemilihan gubernur Jakarta. Yang saya tahu, gubernur memiliki otoritas untuk mengarahkan kebijakan  sistem transportasi kota ini mau seperti apa. Peran yang cukup vital.

Dan setelah 11 Juli ini Jakarta mungkin akan punya pemimpin baru dengan kebijakan baru, atau mungkin juga tidak. Tergantung kalian aja nanti pilih siapa? hehe.

Saya bukan penggemar topik politik. Tidak pernah tahan lebih dari setengah jam dekat-dekat dengan orang yang membicarakan politik, meski kadang geram juga ingin berbuat sesuatu. Geram karena, percuma kita ngomong diskusi sampai berbusa selama orang yang mengisi bangku-bangku di pemerintahan itu isinya orang-orang bebal dari kritik dan saran. Sudah sangat sabar saya tinggal di negeri ini, di kota ini dengan segala dinamika politik elitnya yang bikin kepala mendidih hanya untuk memikirkannya.

Tapi ini ada satu kesempatan di mana kita bisa sedikit merubahnya. Dengan ikut memilih gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta untuk periode 5 tahun ke depan. Sayang jika kita lewatkan.

Mau Pilih Siapa? Saya, sebagai swing voters, yakinlah saya akan cari calon yang benar-benar punya kedekatan ide atau pandangan dengan saya mengenai Jakarta. Nah, sekarang tergantung kandidatnya, adakah yang sesuai dengan kriteria yang seperti saya inginkan? Kalau nggak ada ya saya gak milih. Segampang itu, nggak usah maksa harus milih.

Dan sejak saya tahu akan ada calon independen yang akan maju sebagai kandidat, dan itu adalah Faisal Basri, dalam hati, "Ini menarik!"

Saya memang kurang mengenal sosok beliau. Yang saya tahu waktu itu, dia adalah seorang pengamat ekonomi dan juga akademisi, tercatat sebagai dosen di UI. Saya sering melihat wajahnya menghiasi televisi ketika dia diminta memberikan pandangannya terhadap beberapa kebijakan ekonomi negara. Ya hanya sampai situ saya mengenalnya.

Tapi semenjak beliau resmi mencalonkan diri, saya jadi tergerak untuk mencari tahu lebih jauh. Premisnya ya itu tadi, karena dia berani maju sebagai individu, bukan calon dari Partai. Ini kan menarik!

Diam-diam saya memperhatikan gerak-gerik Faisal Basri.  Awalnya cukup sangsi juga, membaca berita tentang perkembangan dan proses yang harus beliau lewati untuk menjadi calon gubernur independen, tanpa dukungan partai politik. Masih ingat ketika beliau dengan susah payah mengumpulkan KTP sebagai syarat dukungan warga langsung pencalonan dirinya sebagai cagub DKI bersama Biem Benyamin. Dengan susah payah pasangan ini lolos dari proses verifikasi pencalonan. Bahkan sempat saya dengar kabar burung bahwa dukungan KTP para pasangan non partai ini didapatkan berasal dari data leasing, kredit, dll.  Entah ini benar atau tidak.

Yang jelas, setelah beberapa kali mengikuti dan mencari tahu lebih jauh, Faisal Basri punya visi yang jelas mengenai sistem transportasi publik di Jakarta. Dia dengan jelas menolak pembangunan jalan layang bukan tol di Jakarta, dan lebih menekankan untuk memaksimalkan transportasi publik yang terintegrasi. Betapa saya iri dengan Singapura dan Kuala Lumpur dengan sistem MRT dan Mass Rapid KL yang sangat memanjakan penduduknya. Membuat siapapun rela menanggalkan kendaraan pribadi dan memilih transportasi publik di dua kota tersebut. Ah, saya ingin sekali ini menjadi gagasan yang tidak hanya jadi wacana tapi dilakukan nyata di Jakarta.

5 tahun lalu saya juga ikut milih. Saya pilih Fauzi Bowo waktu itu, saya terbeli kampanye 'Serahkan pada Ahlinya', dan melihat catatan karirnya yang memang sudah lama di pemerintahan, jabatan sebelumnya waktu itu adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta. Saya juga terkesima dengan latar belakang pendidikannya yang merupakan lulusan master Planologi di Jerman (koreksi jika saya salah). Dari rasio tersebut, saya terbeli kampanyenya.

Kali ini saya kembali membeli kompetensi dan integritas salah satu pasangan kandidat, milik Faisal Basri dan Biem Benyamin. Tapi kali ini bukan sebagai orang yang sudah percaya dengan kompetensi dan integritas Faisal-Biem, justru saya ingin menguji kompetensi dan integritas pasangan ini.  Dengan memilihnya, dengan segala visi-misi yang telah ia paparkan pada pidato politiknya di depan anggota DPRD Jakarta. Saya ingin melihat, apakah akan bisa benar-benar jalan? Bisakah memperbaiki sistem yang salah? Bisakah membuat kota Jakarta menjadi kota yang nyaman untuk dinikmati bagi semua kalangan?

Comment