Viewing entries in
Random

Kelola Kos dengan Koalakos

Comment

Kelola Kos dengan Koalakos

Tidak banyak yang tahu kalau Ibu saya punya usaha kos-kosan. Kos Ibu Tuti, begitulah Ia menyebutnya. Dengan 7 pintu, Ia berharap pendapatan bulanannya cukup untuk memenuhi kebutuhan setelah Ayah saya pensiun. Di awal usahanya, saya juga membantu mengiklankan kos-kosannya di listing online kos-kosan.  Alhamdulillah, usahanya berjalan cukup lancar, karena lokasi yang strategis, dekat dengan jalan raya dan rumah sakit, kamar selalu penuh, kebanyakan diisi oleh perawat yang bekerja di rumah sakit tersebut. Berkat website listing tersebut, sampai sekarang pun masih ada saja yang whatsapp atau telfon untuk menanyakan kamar kosong karena saat itu saya menggunakan nomor handphone saya sebagai kontak. Hebat ya memang kekuatan internet bisa membantu pelaku bisnis kecil.

Sebuah pekerjaan membawa saya untuk berkenalan dengan aplikasi Koalakos. Kebetulan saya sempat menjadi pembicara untuk sharing Digital Marketing di event Koalakos. Aplikasi Koalakos membantu pengusaha kos-kosan untuk mengelola pembayaran dari para penghuni kos. Saya lihat aplikasi ini cukup menarik, user friendly dan beberapa fiturnya cukup membantu para pemilik kosan. Koalakos bisa membantu mendata semua penghuni kos dalam genggaman anda, bahkan sampai rekap pembayaran semua bisa dikelola dalam aplikasi di smartphone ini. Salah satu fitur yang saya suka saat ini adalah fitur SMS gratis untuk mengingatkan pembayaran kepada penghuni kos-kosan. Tinggal set saja waktunya, nanti aplikasi ini akan mengirimkan SMS pengingat tiap bulannya. 

Bagi pengusaha kos-kosan yang memiliki banyak properti di tempat terpisah juga bisa mengelompokkannya berdasarkan nama properti masing-masing berikut detil alamat properti tersebut. Saya mencoba-coba mendaftarkan kos-kosan Ibu saya, walaupun belum sempat mengisi data-data penghuni kos-kosannya, karena semua datanya ada di buku catatan ibu saya, dan kalian tahu? dia pun kesulitan mencarinya haha. Nah, ini nih yang coba dicarikan solusinya oleh Koalakos. Menghindari hal-hal seperti ini terjadi.

Kira-kira beginilah tampailan dashboardnya. Dibagi 4 halaman utama: Beranda, Penyewa, Pemasukan, dan Properti.

Beranda: adalah halaman dimana rekap status kos-kosan sesuai properti.

Penyewa: adalah halaman status pembayaran masing-masing penyewa. Kita juga bisa menambahkan penyewa atau hentikan penyewa jika sudah tidak aktif lagi. Masukkan no telfon penyewa di sini untuk data pengiriman SMS reminder.

Pemasukan: adalah halaman rekap pemasukan per bulan.

Properti: adalah halaman detil properti yang berisi info alamat properti, info rekening pembnayaran sewa, dll. Info rekening ini yang akan dikirimkan ke penghuni kosan dalam SMS reminder pembayaran kos.

dashboard Koalakos

Saya berharap, aplikasi ini bisa mempermudah beliau dalam menjalankan usahanya. Aplikasi ini bisa didownload di App Store dan Play Store kok. Kalau mau info lebih detil bisa juga mengunjungi website Koalakos

Hmm, jadi ingin punya kos-kosan nggak sih?

Comment

Lifehack: Cohousing di (pinggir) Jakarta

Comment

Lifehack: Cohousing di (pinggir) Jakarta

kavling H

Sejujurnya, saya lupa alasan beberapa tahun lalu tidak langsung ikut cohousing project ketika pertama kali diperkenalkan? Lupa apakah karena saya sedang tidak punya tabungan sebanyak itu? Ragu dengan konsep cohousing? Atau sudah keburu ambil rumah cluster di Sentul? Entahlah, saya lupa urutannya. Tapi saya akui, saya agak ragu bahwa konsep ini akan jalan dengan mudah. Konsep yang menarik, tapi kendala terberat saat itu menurut saya adalah, menemukan orang-orang yang sepaham dan mau membangun rumah 'bareng-bareng'. Apalagi ini terkait duit yang tidak sedikit, pasti bakalan lama sampai bisa terwujud. Pesimis, saat itu saya akui. Tapi saya salah, ternyata saya hanya kurang riset. Dan Mande, teman, arsitek dan sekaligus project initiator cohousing di Jakarta, dengan gigihnya tetap memperjuangkan konsep ini terwujud agar bisa menjadi salah satu solusi masalah hunian di perkotaan. 

Konsep cohousing sebenarnya bukan konsep baru. Originally, cohousing pertama kali diperkenalkan di Denmark pada tahun 1964. Seorang arsitek Denmark, Jan Gudmand-Hoyer mengumpulkan teman-temannya dan memperkenalkan konsep ini. Meskipun kenyataannya, cohousing community pertamanya gagal dibangun. Tapi konsep cohousing tidak gagal sama sekali. Ternyata ada beberapa orang yang menuliskan dan mempublikasikan ide yang sama. Konsep ini pun mulai mendapat respon dari khalayak yang lebih banyak. 

Apapun yang berhasil 'jalan' di luar negeri, seharusnya bisa diimplementasikan juga di sini (Indonesia_red). Hanya saja butuh waktu yang agak lama untuk kita digest. Mungkin Mande berkeyakinan yang sama saat itu. Kegigihannya layak diapresiasi. Akhirnya cohousing project pertamanya berhasil menemukan calon-calon penghuninya. Lokasi pertamanya di Bintaro, di Jl. Masjid Baiturrahim. Saya turut senang. Detail konsep DF Housing Baiturrahim bisa dilihat di website DF Housing.

Jeda beberapa bulan, saya sibuk bolak-balik Jakarta-Sentul tiap weekend, untuk mengisi rumah yang sedang saya cicil 15 tahun. Saya cukup menikmatinya. Karena baik sebelum dan setelah menikah dengan Dhika di tahun 2015, kami tetap #timLDRan. Jadi belum ada urgency untuk tinggal serumah. Saya juga putuskan untuk masih tinggal di rumah orang tua di Jakarta. Karena dekat dengan kantor. Namun, semenjak Dhika akan kembali pindah kerja ke Jakarta di awal tahun 2016, sepertinya kami harus mencari tempat tinggal. Kami sadar, nggak rela saya dan Dhika bolak balik nyetir Sentul - Jakarta untuk bekerja tiap harinya. Kami mulai mencari alternatif lain.

Sebenarnya saat itu pilihannya adalah, membangun rumah di atas tanah orang tua atau ya cari rumah di Jakarta. Tapi urusannya bakal sedikit ribet kalau membangun di tanah milik orang tua, karena itu tanah keluarga dan surat-surat dari pemilik sebelumnya masih belum selesai diurus. Rencana membangun rumah inipun kita tangguhkan dulu. 

Lama tidak mendengar kabar cohousing, ternyata project tersebut tidak luput dari kendala. "Yah, lumayan banyak drama sih", curhat Mande saat itu. "Kontraktor pertama bermasalah, jadi harus cari kontraktor lain", ujar Mande ketika ditanya salah satu alasan waktu pengerjaan yang molor hampir satu tahun lamanya. Peminat pun jadi tinggal 6 dari 9 pemilik bangunan yang direncanakan. Nah, disinilah saya melihat pilihan untuk mengambil slot kosong tersebut. 

dfhousing baiturrahim

Setelah ngobrol-ngobrol dengan Mande, mengenai slot kosong di cohousing Baiturrahim. Akhirnya kami putuskan untuk ambil salah satu slot tersebut. Sedikit khawatir dengan penghuni lain karena belum pernah bertemu dan tidak join dari awal, tapi Mande berhasil meyakinkan kami untuk tetap ikut. Toh, ada Mande yang kita kenal, dan ternyata peminat baru lainnya pun saya kenal, salah satunya Rahne Putri, teman dan ex colleague di kantor lama. Dan setelah bergabung, para penghuni awal ternyata sangat welcome. Oiya, cerita tentang rumah Rahne bisa dibaca di sini

So here we are, setelah berjalan selama hampir tiga bulan lebih. Pembangunan rumah sudah hampir masuk tahap akhir. Berharap segala urusan dimudahkan agar bisa memiliki hunian yang nyaman di (pinggiran) Jakarta.

FD House - front door

UPDATE Rumahnya Sudah Jadi!

Kira-kira bulan Desember 2016, rumah akhirnya sudah jadi sesuai dengan desain awal! Updatenya bisa dibaca di postingan ini

FD House

Comment

JR Pass dan Tripvisto.com

4 Comments

JR Pass dan Tripvisto.com

JR Pass yang dibeli di Tripvisto.com dan tiket atraksi yang saya harap bisa dibeli di website yang sama

JR Pass yang dibeli di Tripvisto.com dan tiket atraksi yang saya harap bisa dibeli di website yang sama

Tampaknya animo orang-orang indonesia untuk ke Jepang belum akan berakhir tahun ini. Status bebas visa (dengan e-passport) membuat Jepang menjadi destinasi yang diburu banyak orang. Setidaknya sampai saya pulang dari jepang Maret kemarin, saya masih melihat banyak teman yang berkunjung ke sana. Khususnya saat Spring, dimana Sakura mulai mekar. Sampai saat ini.

Indikator lainnya apa? Inquiry untuk Japan Rail Pass naik secara signifikan. Juga beberapa atraksi wisata di Jepang, seperti Tokyo Disneyland dan Universal Studios Jepang. Kok bisa tahu? Iya, saya dapat data trend ini dari tempat saya bekerja saat ini, Tripvisto. Anggap saja ini disclaimer.  

Anyway, sudah tahu Tripvisto belum? Kalau belum, you will know in no time! *asik bridging

Jadi apa sih Tripvisto? Tripvisto adalah layanan online travel marketplace, yang khusus menyediakan paket tur wisata, tiket atraksi wisata, dan country pass seperti JR Pass yang sudah disebutkan di atas. Di website tersedia berbagai pilhan paket wisata, mulai domestik maupun internasional. Kalau Traveloka menyediakan layanan booking tiket pesawat dan hotel, di Tripvisto khusus paket tur wisata dan atraksi saja. 

Kenapa website seperti Tripvisto ini harus ada? Simply because I found this platform useful. Saya membeli tiket JR Pass di website ini beberapa bulan lalu. Saya tahu website ini dari teman yang bekerja di sini. Dia posting di salah satu social media platform soal promo JR Pass di Tripvisto. Berbekal informasi dari dia dan modal percaya saja, saya mencoba membeli JR Pass dari Tripvisto. Harga 7 days pass saat itu cuma Rp. 2,900,000. Di tempat lain saat itu tidak ada yang semurah itu. Harga saat ini di Tripvisto, Rp 3,456,000, tetap masih lebih murah dibanding yang ditawarkan di tempat lain. Prosesnya juga mudah, tinggal pesan dengan melampirkan info data passport, dalam maksimal 3 hari, JR Pass sudah sampai di tangan. 

Harapan saya, platform ini bisa diterima oleh masyarakat luas, dan memudahkan kalian yang ingin liburan dan jalan-jalan. Seperti saya yang akhirnya bisa lebih mudah mendapatkan JR Pass untuk traveling di Jepang.

4 Comments

Malam di Alor

Comment

Malam di Alor

Terbangun jam segini habis tiduran di depan kamar (lagi). Langit Alor bikin senyum-senyum sendiri nggak jelas kaya orang lagi jatuh cinta. Biasalah, tipikal anak jakarta lihat bintang-bintang.

Star gazing lagi. Milky way setiap hari keliatan di sini dengan mata telanjang. Sudah dua hari. kok bisa gitu ya? how awesome. Mau foto lagi, tapi yang punya kamera udah masuk kamar. Balik lagi bengong, sambil sesekali mendengar teriakan orang di pulau seberang. Tempat saya menginap memang cuma 15 menit dari pulau Alor kecil, pakai perahu sampan. Mirip-mirip jarak P. Weh dan pulau di seberangnya.

image.jpg

Hari ini terlalu manis. Pagi-pagi disambut iring-iringan dolphin di sisi-depan kapal sambil cari perhatian. Ada paus juga muncul belakangan, sayang agak jauh. Dan kali ini beneran. Bukan ekspresi excitednya Willy Irawan di sini ketika melihat kawan dolphins. Si paus santai aja berenang menyemburkan air dari atas permukaan tubuhnya, kaya di film-film. Kita amazed, sang kapten kapal santai saja cuma bilang, "yah besok paling ketemu lagii". Bukan bualan.

selamat malam, semoga harimu juga menyenangkan.

 

Milky Way dari Marangki Bungalow

Milky Way dari Marangki Bungalow

Comment

#ADWC: Barasuara

Comment

#ADWC: Barasuara

Mau unggah foto-foto di Path/Instagram, nanti flooding. Tapi disimpan sendiri juga nggak tahan mau dishare. Untung kepikiran ide untuk membuat post atau cerita dari foto-foto yang saya ambil hari itu. Dengan tag A Day With Camera (#ADWC). Kali ini dengan latar Barasuara. Dan ada sedikit cerita di sana. 

Ini pertama kalinya saya menonton band ini. Sejak mendengar kali pertama lagu-lagu di album Taifun, saya langsung tertarik dengan band ini. Apalagi mengetahui salah satu personelnya adalah Iga Massardi, yang saya tahu sejak The Trees and The Wild. Gerald Situmorang, gitaris yang pertama kali lihat penampilannya waktu mengiringi Eva Celia di Christmas concert-nya di Red Lounge beberapa tahun lalu. Those two are enough to make me curious about the band. Dan satu lagi yang bikin saya penasaran saat itu, band mana yang bisa membuat Gerald 'hanya' bermain bass guitar, kalau bukan band yang terdiri dari musisi-musisi yang kemampuannya mumpuni? Itu saja sudah premis yang menarik.

Iga Massardi

Iga Massardi

Si Lincah, Gerald Situmorang

Si Lincah, Gerald Situmorang

Gagal mendapatkan invitation sewaktu launching albumnya membuat saya masih penasaran untuk melihat live performance mereka. Album sudah sering saya dengar di Deezer. Tapi masih penasaran ya kalau belum lihat live-nya? Dan Senin, 22 Feb 2016 akhirnya saya bisa melihat langsung penampilan mereka. Anjis, kerennya kebangetan menurut saya. Masing-masing personel sama-sama punya skill yang menonjol. Harmonisasi suara yang dihasilkan dari lima anggota band saat itu bisa membuat hidup panggung dan crowd malam itu. Entah kapan terakhir saya menonton band dengan energi semenyenangkan ini. 

Jadi, apakah terlalu dini untuk menunggu album ke-2 mereka? 

image.jpg
image.jpg

Comment

Long Weekend

Comment

Long Weekend

Ada masanya di mana long weekend menjadi kesempatan untuk traveling atau diving ke tempat-tempat yang belum dikunjungi. Tapi tampaknya itu bukan long weekend kali ini. Liburan Imlek kali ini, cukup dihabiskan dengan menikmati Jakarta yang sepi, diselingi dengan sedikit mampir ke Bogor, mencoba mencari keriaan bersama Dhika dan teman-teman yang juga tidak punya rencana. 

Jadi ngapain? Sabtu kemarin saya berenang di kolam renang senayan dan ngobrol bareng #tetanggaTuku di SRSLY coffee, Cipete. Seru juga sih ngolam lagi, udah lama banget gak ngolam di Senayan. Kolamnya butek, tapi ya cukup menyenangkan bisa berenang lagi. Kebetulan Dhika juga harus therapy lututnya dengan berenang, ada Ipeh yang mau refresh diving dan Citra yang niatnya mau trial Diving. 

@ kolam renang senayan | difoto Dhika.

@ kolam renang senayan | difoto Dhika.

Minggunya saya ke Bogor sama Dhika untuk  #weekendvisit dan beberes rumah. Musim hujan tampaknya membuat rumput menjadi lebih cepat tumbuh, dan tembok jadi agak lembab. Potong rumput dan ngepel rumah memang jadi tujuan utama, tapi cuaca bogor yang lagi adem terkena guyuran hujan bisa membuat suasana jadi lebih rileks. Dan Senin, rencananya mau bertemu Idot dan Petty buat catch up biar pertemanan tidak semakin renggang. Tampaknya long weekend ini akan berjalan sesederhana itu. 

Hope you also had a great long weekend! and Gong Xi Fa Coi buat yang merayakan!  

 

image.jpg

Comment

Belajar Dari Diving Crew Terbaik

Comment

Belajar Dari Diving Crew Terbaik

Rasanya seperti dikunjungi keluarga jauh, ketika Willy dan teman-teman crew Lembongan Dive Center berkunjung ke Jakarta. Ada Bli Moyo, Bli Mogli, Chloe dan Hillary. Saya, Dhika dan Maul menemui mereka di sini. Bercerita mengenai Willy yang baru saja lulus sebagai Dive Instructor, rencana diving selanjutnya, sampai cerita lucu bli Moyo dan bli Mogli yang baru pertama kali berkunjung ke Bandung. 

Lembongan memang selalu jadi tempat persinggahan saya dan teman teman jika ingin diving di Bali. Selain karena ada Willy yang sudah hampir beberapa tahun jadi Dive Master di sana, LDC juga memiliki crew yang seru dan ramah-ramah sekali. Bli Moyo adalah salah satu pemiliknya, Bli Mogli pemilik dan kapten kapal yg biasa kami gunakan untuk Diving, dan Chloe adalah experienced Dive Instructor di sana. Juga Pete, Instruktur saya sewaktu mengambil Advance Open Water di Lembongan Dive Center yang kini sudah balik ke UK.  Saya banyak belajar diving bersama mereka.  

left-right: Chloe, Willy, Hillary, Dhika, Maul, bli Mogli, Bli Moyo.  

left-right: Chloe, Willy, Hillary, Dhika, Maul, bli Mogli, Bli Moyo.  

Comment

Selonjoran di Gunung Pancar (2)

Comment

Selonjoran di Gunung Pancar (2)

Kayanya sebentar lagi saya jadi duta gunung pancar. Sering banget ke sini! Tapi emang anaknya gampangan sih, kalau ada rombongan yang mau ke sana, dan saya diajak, pasti susah nolak. Mungkin kalau ada rombongan ibu-ibu PKK mau arisan di gunung pancar, bisa jadi ikutan juga.

Kita Piknik. Akhirnya setelah sekian lama berteman, tumben banget circle pertemanan yang satu ini mau effort ngumpul dan main bareng di luar kawinan, lahiran, dan buka puasa bersama. Walaupun cuma secuil dari jumlah orang yang ada di Line Grup, tapi yaudalah ya yang bisa aja. Lama kalau nunggu-nungguan, udah pada gede juga. 

Comment

Selonjoran di Gunung Pancar

Comment

Selonjoran di Gunung Pancar

Maunya sih selonjoran somewhere in New Zealand, tapi yah kali ini di Gunung Pancar aja dulu, hehe. Ini kesekian kalinya saya ke sini. Dulu juga pernah glamping di sini. Ya kaya gini, iseng aja. Kebetulan kali ini diajak sama Sarah yang ternyata mau ke sini sama anak-anak kantor. Padahal kayaknya dia cuma nanya arah, cuma gak enak kalau gak basa basi ngajak, jadinya diajak, alhamdulillah yah? :p.

Melihat situasi yang kondusif (tadinya ada acara lain, tapi batal), lalu saya ikutan ini aja ajak si Dhika, karena dia juga belum pernah ke sini. Terlalu semangat, malah jadinya datang sejam lebih awal. Yaudah kita pacaran dulu berdua di kebon pinus.

Dan beginilah suasana siang ke sore hari itu. Menikmati hari libur yang tinggal sehari lagi sebelum kembali ke ruang kantor. Dan sesungguhnya, grup jalan jalan kali ini cukup random. Saya kira. Tapi jalan-jalan sore ini cukup manis, manja (grup) dan menyenangkan. Lain kali ajak ajak lagi ya yang random-random begini? 

 

Comment

Video Diving With Manta

Comment

Video Diving With Manta

Wah, saya lupa post di sini video pertemuan pertama saya dengan Manta! Nggak tahu lagi, ini syahdu banget. Mereka menari-menari di sekitar saya. Indah sekali. Diving di Manta Bay, Nusa Penida, sekitar bulan Agustus, 2014. Tanpa berbasa-basi lagi, ini sekilas cuplikan klip pertemuan saya dengan Manta. 

Comment

Brotrip | Diving Nusa Lembongan & Penida

Comment

Brotrip | Diving Nusa Lembongan & Penida

image.jpg

Tahun lalu saya mendapatkan Open Water Dive License di BIDP, Sanur, Bali. Ya, nggak terasa sudah satu tahun saja saya menjadi open water diver. Log-nya baru 17 terakhir saya cek. Dari 17 dive log tersebut, saya merasa perlu untuk menambah skill menyelam saya. Akhirnya saya putuskan untuk mengambil Advanced Licensed di Bali lagi, kali ini saya berencana untuk ambil di Nusa Lembongan.

 

Kenapa di Nusa Lembongan? Karena selain memang ingin diving di Lembongan, ada Willy yang sedang freelance jadi Dive Master di Lembongan Dive Center. Melihat update-annya di Path, tampaknya seru juga diving di Lembongan. Ditambah good recommendation dari Willy yang menyatakan bahwa para Dive Master dan Instructor di LDC sangat mengedepankan safety saat menyelam, saya semakin tergugah untuk mengambil Advanced di sini. Jadi, ketika tahu Jepri ingin mengambil Open Water Licensed-nya di BIDP dan Maul juga meneruskan ambil Advance di tempat yang sama, maka berangkatlah saya nebeng trip mereka buat melipir ke Nusa Lembongan! 

 

Saya berangkat ke Bali dengan Jepri hari Jumat pagi, menyusul Maul yang sudah sampai di Bali malam sebelumnya. Sementara Jepri dijemput oleh staf dari BIDP sesampainya di bandara Ngurah Rai, saya dan Maul dijemput supir dari LDC yang mengantar kita ke Sanur untuk naik boat ke Nusa Lembongan. Yes, saya berhasil mengajak Maul untuk fun dive dulu di Lembongan sebelum dia ambil course-nya besok harinya di Tulamben.

 

Sesuai jadwal, tiba di Lembongan kita langsung dijemput oleh Willy untuk kemudian langsung berangkat diving. Kita dapat jadwal dive hari itu ke Crystal Bay dan Toya Pakeh. Katanya lagi musim Mola mola di Crystal Bay, penasaran ingin bertemu Mola mola! Tapi mengingat Willy yang membutuhkan waktu tiga bulan diving di Lembongan sampai dia bertemu mola pertamanya, kita put low expectation aja untuk dive kali ini.

 

Dive pertama, jam 11 kita turun di Crystal Bay. Suhu air saat itu dingin sekali! Kata Willy, Crystal Bay memang dive site dengan temperatur suhu airnya bisa mencapai 22 derajat celcius di kedalaman 11-20 m, itulah alasan Mola-Mola sering muncul di sini, karena (cmiiw) Mola-Mola hanya menyelam di kedalaman tertentu di mana suhu airnya lebih dingin, dan tidak banyak dive site yang dengan kedalaman 11-20 m yang mempunyai suhu sedingin itu.

 

Mendengar brief Willy sebelum descend, rasanya tidak se-awkward yang dia khawatirkan. Padahal, ini pertama kalinya saya dan Maul diving di-guide Willy yang kini resmi sebagai Dive Master. Mungkin karena kita pernah diving bareng juga sebelumnya, tapi statusnya saat itu Willy belum jadi Dive Master, dan saya resmi cemen banget waktu itu masih suka positive/negative buoyancy dan udah sering dikawal sama Willy, jadinya kaya ketemu Dive Buddy. Willy saat itu juga udah kelihatan 'beda level' sih sama kita yang nubie ini. Anyway, banggalah saya log book saya ditandatangani oleh Willy! segan.

 

Bertemu Mola & Manta Rays

Tampaknya kita sedang beruntung sekali hari ini, we saw a Mola on our first dive at Crystal Bay, Nusa Penida! a Giant Fish! really amazed with his size. Lewat tepat di belakang saya, ketika sedang menunggu di satu spot di Crystal Bay. Sayang sekali saya nggak sempat merekamnya.

 

Tapi ada satu creature bawah laut yang pesonanya sungguh nggak bisa saya lupakan sampai saat ini. Yang menjadi salah satu impian saya sejak diving pertama kali. Bertemu Manta Rays. Dan kami bertemu dengan Manta Rays di hari ke dua diving di Manta Bays, Nusa Penida. Tidak hanya bertemu, kami bermain-main bersama mereka hampir 30 menit lamanya. Mereka hanya berputar-berputar di atas kita, indah sekali. That was the most beautiful moment since i dive so far! Kali ini saya beruntung sempat merekam dan dibantu oleh footage dari Willy, saya berhasil mendokumentasikannya kali ini. Wanna see how its look like? Enjoy this video!

http://youtu.be/YEIB5WVgHSo

 

Catatan perjalanan:

Cost PADI Advanced Open Water di Lembongan Dive Center : IDR 3.000.000 / 5 dives (exclude penginapan) Speedboat Sanur - Nusa Lembongan: IDR 50,000 - 125,000

image.jpg

Comment

Comment

Piknik Hari Raya di Kebun Raya Bogor

Liburan Lebaran 1435 H kemarin kita Piknik lagi! yeay! dengan anggota yang bertambah dari piknik pertama. Lokasi masih sama di Kebun Raya Bogor, dengan cuaca yang lebih cerah. Tapi kali ini lebih prepare sama makanan ringan dan minumannya. Tidak lupa perkakas alas yang sudah kita beli sewaktu piknik perdana beberapa bulan lalu. Dan lebih banyak orang juga ternyata nggak mengurangi keseruan pikniknya!

Lihat foto-foto lengkapnya di

Flickr

yah. Yuk ah!

Comment

Comment

Roadtrip Roemah Pulomanuk

Awalnya saya memutuskan untuk tidak ikut trip ini. Trip yang beranggotakan Budi, Popon, Erpe, Ochi, Goro, Acionk, Ayu, Maul. Karena tanggalnya berbarengan dengan kepulangan Dhika ke Jakarta. Walaupun akhirnya Dhika pulang seminggu lebih dulu dari tanggal trip ini, karena sudah terlanjur memberikan tempat untuk yang lain, jadi saya tetap nggak ikut juga. Lagipula expense saya lagi berantakan banget bulan itu.

Hari itu hari Jumat, malam pula, jam jam random, karena keputusan-keputusan random-impulsif biasa terjadi di malam sabtu hehe. Dan benar saja, kebetulan hari itu hari dimana mereka akan berangkat. Ketika saya hubungi mereka untuk menanyakan keberadaannya, sekedar untuk bertemu karena saya pikir mereka akan berangkat tengah malam, jadi mungkin bisa ketemuan dulu.. Eh, mereka malah kasitau kalau harga sewa Roemah Pulomanuk yang mau disewa, mendapat potongan 50% karena kita akan share rumah dengan pemiliknya. Dan mereka bilang juga, kalau maksimal bisa sampai 9 orang. (Sebelumnya dikasih tahu kalau maksimal hanya bisa 8 orang). Lalu saya mulai tertarik untuk ikut, hehe. Akhirnya saya putuskan ikut saja. Toh di Jakarta saya juga tidak ada rencana.

Malam itu kita berangkat dengan 2 mobil, mobil Ayu dan mobil Acionk. Saya ikut mobil Ayu. Setelah mampir ke rumah untuk ambil baju ganti, akhirnya kita berangkat malam itu lewat jalur Sukabumi-Pelabuhan Ratu-Cimaja-Sawarna-Pulomanuk. Saya, Budi dan Erpe sudah dua kali ke Cimaja, jadi lumayan hafal jalur ini. Berangkat Jumat malam memang waktu yang paling pas untuk ke arah sana. Paling macet hanya di sekitar Pabrik Aqua, Pocari Sweat, selanjutnya biasanya lancar jaya. Tapi malam itu, salah satu jembatan di kawasan tersebut sedang rusak, mengakibatkan waktu tempuh yang lebih lama dari biasanya. Untung nggak nyetir hehe.

Berangkat jam 12-an, kita baru sampai di Pelabuhan Ratu jam 05.00. lumayan meleset dari biasanya. Dulu, kita bisa sampai jam 3 jika berangkat jam segitu. Karena perjalanan masih jauh, akhirnya kita lanjut lagi ke arah Sawarna, berharap masih dapat sunrise di bukit setelah Cimaja. Dan sesuai perkiraan, kita masih dapat sunrise di sini. Sunrise yang cukup indah, karena ada cincin matahari di sana. Sesuatu yang jarang terjadi, kalau kata Acionk.

Lalu, kita meneruskan perjalanan ke Pantai Sawarna, sekitar satu jam perjalanan kita sampai di sana. Karena Roemah Pulomanuk tinggal 8 kilometer dari sini, maka kita berhenti dulu dan bermain-main di pantai ini, sambil sarapan indomie goreng dan minum kelapa muda. Ah, what a Saturday Morning.

Setelah dua jam di sini, akhirnya kita meneruskan perjalanan ke Pulomanuk. Dan tidak sampai 20-30 menit kita sampai di Roemah Pulomanuk. Tempatnya bagus, cukup eye candy, dan memang menarik sekali rumah ini. Rumah Joglo pada dasarnya, tapi furniture di dalamnya sudah agak dikombinasi dengan furniture-furniture IKEA, dan gaya-gaya mid-century.

Selanjutnya seperti yang sudah ditebak, weekend kita habiskan dengan leyeh-leyeh, main ke pantai di belakang rumah, nonton film pakai infocus, makan, ketawa-gosip-curhat, dan foto-fotolah! (apalagi haha)

Oiya, untuk yang tertarik menginap di Roemah Pulomanuk bisa menghubungi ke:

email: roemahpulomanuk@gmail.com

telf: 087888866680

Comment

1 Comment

G.L.A.M.P.I.N.G

Gunung Pancar 1-2 Mar 2014
via Flickr http://ift.tt/1eVIZzG
 
 
[Updated] 
this is our little documentation from our glamping. enjoy!
 
[youtube http://www.youtube.com/watch?v=VRdv55zAXjQ&w=560&h=315]

 

1 Comment

Comment

Weekend Getaway: Poffertjes di Puncak

Random! Tiba-tiba Kamis (30/1/14) malam, setelah menghabiskan minum masing-masing dan ngobrol ngalor ngidul di salah satu lounge di Senopati, Budi, Erpe, Dhika dan saya kembali melontarkan ide random. Kalau waktu itu kita random mau lihat pantai, kali ini kita random mau lihat gunung, haha. Karena gunung paling deket ya Puncak, maka kita putuskan ke sana, nggak tau juga di Puncak mau ngapain haha Akhirnya kita coba ajak Ochi, siapatau dia bisa ikut, karena kalau cuma kita berempat, takut hal-hal aneh kejadian lagi :p. Dan, Ochi datang dengan ide brilian, dia bilang kalau di Puncak dia mau cobain Poffertjes. Lah, yang lain nggak ada yang percaya kalau di sana ada Poffertjes, ada juga jagung bakar, indomie rebus/goreng pake telorya, sate PSK, mamang-mamang penjual kupluk, dan kampung arab. Makin-makin lah kita mau ke sana, cuma mau buktiin omongan Ochi, haha.

...Di tengah jalan sempet mikir puter balik, gara-gara hujan gak berhenti-berhenti di tol...

Tapi akhirnya kita sampai juga sih di Warung Pengkolan Puncak (WPP Group). Dan menemukan bahwa legenda Poffertjes di Puncak itu benar adanya. Selamat Ochi, kamu berhasil terhindar dari ejekan kami! Kali ini kamu benar!

poffertjes

Comment

Comment

Weekend Getaway: Kebun Raya Bogor

photo 3-crop

Kapan terakhir kali kalian ke Kebun Raya Bogor? Saya masih ingat kapan terakhir kali ke Kebun Raya Bogor, waktu saya kelas 3 SMP. Kalau nggak salah waktu itu ke sana bersama tiga orang teman SMP saya, berangkat naik kereta sehabis pulang les di Nurul Fikri. Tidak terlalu berkesan, cuma tiga orang anak SMP yang bosan belajar dan sok berani naik kereta sendirian ke Bogor. haha..

Sabtu, tanggal 4 Januari lalu saya kembali mengunjungi Kebun Raya Bogor dengan niat piknik. Bareng beberapa teman kantor, Refika, Ria, dan Sarah. Rencana piknik ini sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu, saat itu impulsif ke Bogor sehabis ke kawinan Dinda, terus iseng mau piknik di Kebun Raya. Bahkan, sudah sampai beli alas di Ace Hardware. Sayang, pas keluar dari Ace Hardware, tiba-tiba hujan turun. Gagal jon.

Rencana piknik ini datang lagi pas awal tahun, tepatnya ditagih sih sama cewek-cewek ini, karena beberapa kali nggak ketemu hari yang pas setelah percobaan pertama. Yaudah, saya iyain ajakan mereka buat piknik lagi, dan ternyata.. it was an awesome weekend! Seru syahdu gitu! Nggak nyangka sih, Kebun Raya Bogor itu sebagus ini buat hanging around dan santai-santai bareng teman. Kalau kata cewek-cewek, instagramable banget.. yea whatever.. haha tapi memang sih, mungkin karena ini pertama kalinya lagi nyobain piknik, jadi hari itu kita kebanyakan foto-foto. Surprise juga karena viewnya oke banget!

Definitely gonna spend another weekend here, under the sun, with books, good music and good friends. 

the view leyeh leyeh at its best three us

Comment